sistem eksresi pada manusia


Hasil presentasi mata kuliah anatomi dan fisiologi manusia :

 

Pada tubuh manusia terjadi metabolisme yang mengkoordinasi kerja tubuh. Proses metabolisme selain menghasilkan zat yang berguna bagi tubuh tetapi juga menghasilkan zat-zat sisa yang tidak berguna bagi tubuh. Zat-zat sisa yang berguna bagi tubuh dapat bermanfaat bagi tubuh kita dalam kelangsungan hidup. Hasil –hasil metabolisme yang berupa zat-zat sisa yang tidak dimanfaatkan lagi oleh tubuh berupa racun. Zat-zat sisa tersebut perlu dikeluarkan dari tubuh melalui organ-organ tubuh tertentu.

Pengeluaran zat sisa tersebut diperlukan sistem pengeluaran yang disebut sistem ekskresi. Sistem ekskresi merupakan pengeluaran limbah hasil metabolisme pada organisme hidup. Zat sisa metabolisme yang harus dikeluarkan antara lain :

A. karbondioksida (CO2),

B. urea,

C. air (H2O),

D. amonia (NH3),

E. kelebihan vitamin, dan

F. zat warna empedu.

Organ pengeluaran zat sisa pada manusia berupa :

A. kulit,

B. paru-paru

C. hati dan

D. ginjal

Setiap organ-organ pengatur metabolisme untuk sistem ekskresi memiliki suatu faktor pengaruh. Seperti pada kulit, pembentukan dan pengeluaran keringat dipengaruhi oleh faktor hormon ADH, cuaca, dan lingkungan disekitar. Bahkan organ ekskresi itu pun memiliki beberapa gangguan atau penyakit. Apabila organ-organ metabolisme itu tidak berfungsi dengan baik maka akan mempengaruhi sistem kerja metabolisme pada tubuh kita.

A. PENGERTIAN

Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat yang sudah terakumulasidalam tubuh agar kesetimbangan tubuh tetap terjaga.

Beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ekskresi adalah sebagai berikut :

1. Defekasi: proses pengeluaran sisa pencernaan makanan yang disebut feses. Zat yang dikeluarkan meliputi zat yang tidak diserap usus sel epitel, usus yang rusak dan mikroba usus.

2. Ekskresi: pengeluaran zat sampah sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh.

3. Sekresi : yaitu pengeluaran getah oleh kelenjar pencernaan ke dalam saluran pencernaan. Getah yang dikeluarkan masih berguna bagi tubuh dan umumnya mengandun enzim.

4.Eliminasi : yaitu proses pengeluaran zat dari rongga tubuh, baik dari rongga yang kecil (saluran air mata) maupun dari rongga yang besar (usus).

B. FUNGSI

1.Membuang limbah yang tidak berguna dan beracun dari dalam tubuh

2.Mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh (osmoregulasi)

3.Mempertahankan temperatur tubuh dalam kisaran normal (termoregulasi)

4.Homeostasis

C. ALAT-ALAT EKSRESI

1. Paru – paru

2. Kulit

3. Hati

4. Ginjal

A. Paru-paru (pulmo)

Paru-paru berada di dalam rongga dada manusia sebelah kanan dan kiri yang dilindungi oleh tulang-tulang rusuk. Paru-paru terdiri dari dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang memiliki tiga gelambir dan paru-paru kiri memiliki dua gelambir.

Paru-paru sebenarnya merupakan kumpulan gelembung alveolus yang terbungkus oleh selaput yang disebut selaput pleura.

Penguraian karbohidrat (glukosa) dan lemak akan  menghasilkan energy dan akan pula menghasilkan zat sisa berupa CO2 dan H2O yang akan dikeluarkan lewat paru-paru. Seseorang yang berada dalam daerah dingin waktu ekspirasi akan tampak menghembuskan uap. Uap tersebut sebenarnya merupakan carbondioksisa dan uap air yang dikeluarkan saat terjadi pernafasan.

Proses pembuangan diawali dengan berdifusinyakarbon dioksida dari sel-sel ke dalam darah, melalui cairan jaringan dan akhirnya masuk kedalam elveolus .Didalam alveolus, karbon dioksida akan dikeluarkan melalui udara yang dihembuskan pada saat ekspirasi.

Kelainan-kelainan pada paru-paru :

  1. Asma atau sesak nafas, yaitu kelainan yang disebabkan oleh penyumbatan saluran pernafasan yang diantaranya disebabkan oleh alergi terhadap rambut, bulu, debu atau tekanan psikologis.
  2. Kanker Paru-Paru, yaitu gangguan paru-paru yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Penyebab lain adalah terlalu banyak menghirup debu asbes, kromium, produk petroleum dan radiasi ionisasi. Kelainan ini mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru.
  3. Emphysema, adalah penyakit pembengkakan paru-paru karena pembuluh darahnya terisi udara.
  4. dll

Upaya  yang dapat dilakukan untuk menghindari dan mengatasi kelainan pada paru-paru, antara lain :

  1. Mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi secara teratur.
  2. Berolah raga dengan teratur.
  3. Istirahat minimal 6 jam per hari.
  4. Mengindari konsumsi rokok, minum minuman beralkohol dan narkoba.
  5. Hindari Stress.
  6. Dll

 

B. Kulit

 

Kulit merupakan organ terbesar yang terdapat diseluruh permukaan tubuh dan terdiri dari beberapa jaringan yang memiliki fungsi spesifik. Kulit berfungsi sebagai alat pelindung tubuh terhadap segala bentuk rangsangan. Selain itu pula, sebagai alat eksresi kulit berfungsi untuk mengeluarkan keringat. Melalui pori-pori kulit tubuh memngeluarkan zat sisa berupa keringat yang mengandung air dan garam-garam mineral.

Kulit tersusun atas tiga lapisan, yaitu  :

1. epidermis (lapisan luar/kulit ari)

2. dermis (lapisan dalam/kulit jangat)

3. hipodermis (jaringan ikat bawah kulit

1)Epidermis

Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum. stratum granulosum, dan stratum germinativum. Stratum korneum tersusun dari sel-sel mati dan selalu mengelupas. Stratum lusidum tersusun atas sel-sel yang tidak berinti dan berfungsi mengganti stratum korneum. Stratum granulosum tersusun atas sel-sel yang berinti dan mengandung pigmen melanin. Stratum germinativum tersusun atas sel-sel yang selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar.
•Stratum korneum, merupakan lapisan zat tanduk, mati dan selalu mengelupas.
•Stratum lusidium, merupakan lapisan zat tanduk
•Stratum granulosum, mengandung pigmen
•Stratum germonativum, selalu membentuk sel-sel baru ke arah luar

2) Dermis
Dermis terletak di bawah epidermis. Lapisan ini mengandung akar rambut, pembuluh darah, kelenjar, dan saraf. Kelenjar yang terdapat dalam lapisan ini adalah kelenjar keringat (glandula sudorifera) dan kelenjar minyak (glandula sebasea). Kelenjar keringat menghasilkan keringat yang di dalamnya terlarut berbagai macam garam. terutama garam dapur. Keringat dialirkan melalui saluran kelenjar keringat dan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui poripori. Di dalam kantong rambut terdapat akar rambut dan batang rambut. Kelenjar minyak berfungsi menghasilkan minyak yang berfungsi meminyaki rambut agar tidak kering. Rambut dapat tumbuh terus karena mendapat sari-sari makanan pembuluh kapiler di bawah kantong rambut. Di dekat akar rambut terdapat otot penegak rambut.
•Akar rambut
•Pembuluh darah
•Syaraf
•Kelenjar minyak (glandula sebasea)
•Kelenjar keringat (glandula sudorifera)
•Lapisan lemak, terdapat di bawah dermis yang berfungsi melindungi tubuh dari pengaruh suhu luar
3) Hipodermis
Hipodermis terletak di bawah dermis. Lapisan ini banyak mengandung lemak. Lemak berfungsi sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas tubuh.

Kelenjar keringat menyerap air dan garam, terutama garam dapur dan darah di pembuluh kapiler. Keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori di permukaan kulit akan menyerap panas tubuh sehingga suhu tubuh menjadi tetap. Pada keadaan normal. keringat akan keluar dari tubuh sebanyak sekitar 50 mL setiap jam.

Beberapa faktor yang dapat memacu pengeluaran keringat antara lain :

1. peningkatan aktivitas tubuh.

2. peningkatan suhu lingkungan, dan

3. goncangan emosi.

Emosi akan merangsang saraf simpatis untuk memperkecil pengeluaran keringat dengan cara mempersempit pembuluh darah.

Pengeluaran keringat yang berlebihan, misalnya karena terik matahari atau kegiatan tubuh yang berlebihan, dapat menyebabkan terjadi lapar garam. Kekurangan kadar garam darah dapat mengakibatkan kekejangan dan pingsan.

Gangguan dan kelainan pada kulit

1. Biduran, dapat terjadi karena udara dingin, makanan, atau obat-obatan.

2. Ringworm, penyebabnya adalah jamur.

3. Kutu atau cacing, hidup di bawah permukaan kulit, menyebatkan iritasi

dan gatal-gatal.

4. Psoriaris, gejalanya kulit kemerahan dan bersisik.

5. Kanker kulit

6. dll

 

 

 

C. Hati

Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, terdapat di rongga perut sebelah kanan atas, berwarna kecoklatan. Hati mendapat suplai darah dari pembuluh nadi (arteri hepatica) dan pembuluh gerbang (vena porta) dari usus. Hati dibungkus oleh selaput hati (capsula hepatica). Hati terdapat pembuluh darah dan empedu yang dipersatukan selaput jaringan ikat (capsula glison). Hati juga terdapat sel-sel perombak sel darah merah yang telah tua disebut histiosit.

Sebagai alat eksresi hati menghasilkan empedu yang merupakan cairan jernih kehijauan, di dalamnya mengandung zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin), garam empedu, kolesterol dan juga bacteri serta obat-obatan.

Setiap hari hati menghasilkan empedu sebanyak 800-1000 mL. Empedu berasal dari penghancuran hemoglobin eritrosit yang telah tua (berumur 120 hari). Hemoglobin dalm eritrosit akan diuraikan menjadi hemin(Kristal), zat besi, dan globin. Zat besi dan globin akan disimpan dalam hati, kemudian dikirim ke sumsum tulang merah untuk pembentukan antibody atau hemoglobin baru. Sedangkan hemin akan dirombak menjadi bilirubin dan biliverdin. Yang merupakan zat warna bagi empedu danmengandung warna hijau biru. Zat warna tersebut yang dalam usus akan mengalami oksidasi menjadi urobilin sehingga warna feces dan urin kekuningan.

Gangguan pada hati yang umumnya dijumpai di masyarakat saat ini adalah HEPATITIS atau PENYAKIT KUNING.

1. Disebut demikian karena tubuh penderita menjadi kekuningan, disebabkan zat warna empedu beredar ke seluruh tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh serangan virus yang dapat menular melalui makanan, minuman, jarum suntik dan transfusi darah.

2. Hepatitis adalah peradangan pada sel-sel hati. Penyebab penyakit hepatitis yang utama adalah virus. Virus hepatitis yang sudah ditemukan sudah cukup banyak dan digolongkan menjadi virus hepatitis A, B, C, D, E, G, dan TT.
Beberapa jenis hepatitis yang saat ini harus diwaspadai adalah:

1.Hepatitis A yang disebabkan oleh Virus Hepatitis A (VHA)
2.Hepatitis B yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB)
3.Hepatitis C yang disebabkan oleh Virus Hepatitis C (VHC)

3. Hemokhromatosis

4. Kanker hati

5. Penyakit Wilson

6. Sirosis

7. Penyakit hati disebabkan alkohol

D. Ginjal

 

    Yang akan dibahas disini menyangkut keseluruhan system urinaria. yang meliputi ginjal, ureter, kandung kemih, uretra. System ini membantu mempertahankan homeosatsis dengan menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolism.

1. Ginjal

Pada manusia, ginjal merupakn organ eksresi utama. Ginjal (ren) manusia berjumlah sepasang, terletak di rongga perut sebelah kanan depan dan kiri depan ruas-ruas tulang belakang bagian pinggang. Ginjal kanan lebih rendah dari pada ginjal kiri karena di atas ginjal kanan terdapat hati. Ginjal berbentuk seperti biji ercis dengan panjang sekitar 10 cm dan berat sekitar 200 gram.

Unit Fungsional Ginjal adalah nefron . ginjal orang dewasa dan sehat mempunyai 1 juta nufron (2 ginjal = 2 juta nefron). Setiap nefron terdiri atas :

1. Badan malphigi (renal corpuscle)

2. Tubulus kontortus proksimal

3. Bagian tipis dan tebal lengkung henle

4. Tubulus kontortus distal

Tipe- tipe nefron

1. nefron kortikal , nefron ini terletak di bagian korteks ginjal dan hampir seluruh nefron  termasuk kedalam tipe ini.

2. nefron jukstamenjular, terletak dibagian medulla ginjal

Badan malphigi terdiri atas berkas kapiler yang disebut glomerulus yang dikelilingi kapsula bowman. Lembaran dalam yang menutupi kapiler glomerulus dinamakan lapisan visceral, lembaran luar membentuk batas luar tebal malphigi disebut lapisan parietal kapsula bowman yang dilapisi sel epitel gepeng. Antara dua lapisan terdapat ruang kapsula yang menerima filtrate. Setiap renal corpuscle mempunyai kutup vaskuler tempat arteri afferent masuk dan arteri efferent keluar meninggalkan glomerulus dan kutup urinarius tempat tubulus proksimal dimulai.

Lapisan parietal yang berdinding selapis sel epitel gepeng begitu sampai dikutup urinaria epitel berubah menjadi epitel kuboid. Lapisan visceral mengalami modifikasi selama perkembangan embrional. Sel-sel lapisan internal dinamakan podosid, mempunyai badan sel dimana muncul beberapa tonjolan primer. Setiap tonjolan primer mempunyai banyak tonjolan sekunder yang menutupi kapiler glomerulus. Tonjolan sekunder ini saling bertautan, membatasi ruang yang membentuk celah filtrasi.

Antara sel-sel endotel kapiler dan podosit yang berlubang-lubang merupakan lapisan basalis. Membrane ini merupakan struktur kontinyu yang memisahkan darah kapiler dari ruang kapsuler. Disamping sel endotel dan kapiler glomerulus mempunyai sel mesengial. Sel ini bersifat kontraktil dan memainkan peranan dalam :

1. Regulasi filtrasi glomerulus

2. Mensekresi berbagai senyawa

3. Mengambil kompleks imun

4. Terlibat dalam produksi penyakit glomerulus

5. Bekerja sebagai makrofag

6. Membersihkan lamina basalis dari zat-zat tertentu yang tertimbun dalm matriks selama filtrasi.

Tubulus kontortus proksimal manusia panjangnya ± 15 mm dengan diameternya 55µm . dindingnya dibentuk oleh selapis sel tunggal kuboid yang saling menjalin satu dengan yang lain dan disatukan oleh tautan kedap apical. Apeks sel yang menghadap ke lumen tubulus banyak mikrovilli yang panjangnya 1µm, bentukan ini dinamakan brushborder (batas sikat) yang berfungsi membantu absorbs zat-zat (peptide,glukosa) yang keluar dari darah selama filtrasi.

Tubule proksimal berakhir dengan segmen tipis pars desnden lengkung henle yang mempunyai epitel sel gepeng yang tipis. Segmen tipis ini berakhir dalam segmen tebal pars asendens yang sel selnya bentuk kuboid yang banyak mengandung mitokondria. Pars asenden tebal lengkung henle mencapai glomerulus dan tubulus berdekatan dengan arteriol aferen dan eferen, dimana dinding arteriol aferen mengandung sel jukstaglomerulus (pensekresi rennin). Pada titik ini epitel tubulus dimodifikasi membentuk macula ddensa. Sel juksraglomerulus, macula densa dan sel lacis bergranula bersama sama dikenal sebagai apparatus jukstaglomerulus.

Tubulus kontortus distal, epitel kuboidnya lebih rendah daripada tubulus proksimal, mempunyai mikrovilli sedikit. Tubulus ini bersatu membentuk tubulus koligen yang berjalan melewati korteks dan medulla renalis yang akan bermuara di pelvis renalis pada apeks piramida medulla.

Ginjal merupakan alat ekskresi penting yang mempunyai beberapa fungsi, antara lain :

1. menyaring darah sehingga menghasilkan urine;

2. mengekskresikan zat-zat yang membahayakan tubuh. misalnya protein-protein asing yang masuk ke dalam tubuh, urea, asam urat. dan bermacam -macam garam; mengekskresikan zat-zat yang jumlahnya berlebihan, misalnya kadar gula darah yang melebihi normal; mempertahankan tekanan osmosis cairan ekstraseluler; dan mempertahankan keseimbangan asam dan basa.

3. Mengekskresikan zat-zat yang merugikan bagi tubuh, antara lain :urea, asam urat, amoniak, creatinin garam anorganik bacteri dan juga obat-obatan

4. Mengekskresikan gula kelebihan gula dalam darah

5. Membantu keseimbangan air dalam tubuh, yaitu mem-pertahankan tekanan osmotik ektraseluler

6. Mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseim-bangan asam basa darah.

7. dll

FISIOLOGI GINJAL

Susunan kimia lingkungan internal diatur ginjal dengan proses proses kompleks yang terdiri dari filtrasi, absorbs aktif, absorbs pasif, dan sekresi.

Kedua ginjal menghasilkan ±125ml filtrate per menit , 124ml absorpsi jadi ± 1 ml dikeluarkan kedalam kaliks sebagai urin.

Proses pembentukan urin

Di dalm ginjal terjadi pembentukan urin melalui serangkaian proses yaitu :

1. Filtrasi (penyaringan)

2. Reabsobsi (penyerapan kembali)

3. Augmentasi (pengeluaran zat sisa yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh dan tidak mungkin disimpan lagi)

1. FILTRASI

Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomerulus menuju ke ruang kapsula bowman dengan menembus membrane filtrasi. Membrane filtrasi terdiri dari tiga lapisan yaitu:

1. Sel endothelium glomerulus

2. Membrane basiler

3. Epitel kapsula bowman

Dibawah ini adalah peredaran darah di ginjal.

Sel-sel endothelium glomerulus dalam badan malphigi akan mempermudah proses filtrasi.

Proporsi curah jantung yang mensuplai ginjal menurut Wetterer ± 20%. Curah jantung maanusi terlentang istirahat rata-rata ± 5,51/menit.

Renal Plasma Flow (RPF) adalah jumlah plasma yang melewati ginjal dalam waktu 1 menit. Pada manusia normal RPF sebesar 600 ml/menit.

Renal Bloob Flow (RBF) adalah jumlah darah yang melewati ginjal dalam waktu 1 menit. Pada manusia normal RBF sebesar 1200 ml/menit (20% dari curah jantung.

Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik (tekanan darah) dan tekanan onkotik (tekanan osmotic plasma) sebesar 40 mmHg. Tekanan hidrostatik 66 mmHg, tekanan onkotik 25 mmHg.

Glomerulus Filtration Rate (GFR) adalah jumlah filtrate yang terjadi dalam waktu 1 menit.pada manusia normal GFR sebesar 120 ml/menit.

GFR       120

Filtration fraction =—– =   — = 0,2 (20%)

RPF       600

Fraksi filtrasi ini menunjukan persen plasma yang memasuki nefron yang sebenarnya menjadi filtrate glomerulus.

Di dalam glomerulus sel-sel darah, trombosit, dan sebagian besar protein plasma disaring dan diikat agar tidak ikut dikeluarkan. Hasil penyaringan berupa urin primer. Urin primer mempunyai kandungan yang hampir sama dengan cairan yang menembus kapiler menuju keruang antar sel. Dalam keadaan normal, urin primer tidak mengandung eritrosit tetapi mengandung protein yang kadarnya kurang dari 0,03%. Kandungan elektrolit (senyawa yang larutannya merupakan pengahntar listrik) dan kristaloid ( Kristal yang halus yang terbentuk dari protein)dari urin primer juga hampir sama dengan cairan jaringan. Kadar anion didalam urin termasuk ion Cl dan ion HCO3lebih tinggi 5% daripada kadar anion plasma, sedangkan kadar kationnya lebih rendah 5% dari kadar kation plasma. Selain itu urin primer juga mengandung glukosa, garam-garam, natrium, kalium dan asam amino.

2. REABSORBSI

Susunan urin primer sangat berbeda dari filtrate glomerulus. Terdapat perbedaan yang sangat besar antara volume cairan yang dibentuk pada glomerulus tiap menitdan jumlah yang sampai dipapila dalam waktu yang sama. Glomerulus hanya berperan sebagai saringan. Susunan filtrate glomerulus ditentukan oleh permeabilitas membrane kapiler terhadap zat-zat darah, sehingga filtrate glomerulus masih banyak mengandung zat-zat yang penting untuk metabolism normal seperti asam amino, air, glukosa, elektrolit dan senyawa yang harus disekresi dan dibuang adalah urea, kreatinin, asam urat. Sejumlah zat-zat esensial ditahan sesuai kebutuhan untuk mempertahankan lingkunan internal.

Reabsorbsi merupakan proses perpindahan cairan dari tubulus renalis menuju ke pembuluh darah yang mengelilinginya, yaitu kapiler peritubuler. Sel-sel tubulus renalis secara selektif mereabsorbsi zat-zat yang terdapat dalam urin primer. Reabsobsi ini tergantung dari kebutuhan zat-zat yang terdapat dalam urin primer tersebut. Setelah reabsorbsi , kadar urea menjadi lebih tinggi  dan zat-zat yang tidak dibutuhkan tidak ditemukan lagi. Urin yang dihasilkan setelah proses reabsorbsi berupa urin sekunder(filtrate tubulus)

REABSORBSI AIR

Pada keadaan normal, hampir 99% dari air yang menembus membrane filtrasi akan direabsorbsi sebelum mencapai ureter.

Bagian tubulus renalis

Air yang diabsobsi  (%)

Tubulus Kontortus proksimal

80

Lengkung henle

6

Tubulus distal

9

Saluran penampung

4

Reabsobsi ditubulus kontortus proksimal dilakukan dengan proses osmosis yang disebut respirasi obligat. Sebaliknya, reabsobsi air ditubulus distal disebut reabsorbsi fakultatif, yaitu reabsorbsi yang terjadi tergantung dari kebutuhan.

REABSORBSI ZAT TERTENTU

Didalam tubulus proksimal, tubulus distal dan tubulus koligen Na+ berdifusi pasif dari lumen tubules kedalam sel epitel tubulus menuruni perbedaan konsentrasi dan listriknya serta dipompa aktif dari sel kedalam sel interestial. Na+ dipompa kedalam interestisium oleh Na+-K+ ATPase (ditransfer secara aktif) dan clorida dan air mengikuti secara pasif untuk mempertahankan kesetimbangan listrik dan osmotic. Pada umumnya zat yang penting bagi tubuh diabsorbsi secara transport aktif.

 

REABSORBSI ZAT YANG PENTING BAGI TUBUH

Zat-zat penting bagi tubuh yang secara aktif direabsobsi adalh protein, asam amino, glukosa, asam asetoasetat, dan vitamin. Glukosa dan asam asetoasetat merupakn sumber energy, sedangkan protein dan asam amino merupakan bahan pengganti sel yang sudah tua. Zat-zat tersebut dereabsorbsi secara aktif ditubulus proksimal sehingga tidak ada lagi dilengkung henle.

Senyawa lain yang disekresi oleh tubulus misalnya turunan dari asam paraaminohipurat, merah fenol dan warna sulfonftalein, penisilin dan berbagai zat warna dyodinasi seperti yudopiraset (diodrast) aktif disekresi kedalam cairan tubulus. Yang dihasilkan didalam badan dan disekresi oleh tubulus yaitu dari berbagai eter sulfat, steroid, glukuronida, 5-hidroksiindoasetat, metabolet utama serotonin dan obat-obatan tertentu yang merupakan basa organic juga EDTA ( etil diamintetraasetat)

3. AUGMENTASI

augmentasi adalah proses penambahan zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh kedalam tubulus kontortus distal. Peristiwa ini disebut juga sekresi tubular. Sel sel tubulus mengeluarkan zat-zat tertentu yang mengandung ion hydrogen dan ion K kemudian menyatu dengan urin sekunder. Penambahan ion hydrogen sangt penting karena membantu menjaga kesetimbangan pH dalam darah.

Mekanisme pengenceran dan pemekatan urin dilakukan dilengkung henle dengan cara pemekatan secara berulang mentransfer natrium dalam jumlah kecil. Urin hipotonik dan hipertonik juga tergantung dengan adanya ADH. Dan semuanya itu juga tergantung pada gradient osmotic medulla ginjal yang dipertahankan oleh vasa rekta dengan membentuk “counter current system” .

Pengasaman urin dilakukan ginjal dengan dengan mengatur konsentrasi bikarbonat plasma. , ginjal melakukannya dengan dua cara :

1. Bikarbonat yang difiltrasi semuanya diserap kembali oleh tubulus

2. Bikarbonat dibentuk lagi dalm tubulus distalis untuk menggantikan bikarbonat yang digunakan oleh adanya asam-asam yang tidak menguap (HCl, H3PO­4, H2SO4 dan asam- asam organic) dalam cairan ekstrasel sebagai akibat prises metabolism.

Dalam sel tubulus distal terjadi proses yang sama dengan proses yang terjadi didalam tubulus proksimal . ion H dibentuk dari CO2 dan H20 dan disekresi ke dalam lumen ditukar dengan ion Na . proses ini berlangsung terus menerus sampai individu normal mencapai pH cairan 4,5.

Makin rendah pH urin ( konsentrasi ion H makin besar ), maka makin cepat ammonia akan berdifusi kedalam urin. Jadi, pembentukan amoniak sangat meningkat pada asidosis metabolic dan dapat diabaikan pada alkalosis. Juga telah ditemukan bahwa aktifitas glutaminase ginjal diperbesar oleh asidosis. Mekanisme amoniak adalah alat yang berharga untuk koversi kation. Dalam keadaan normal, 30-50 mEq ion H dibunag setiap hari dengan bergabung dengan ammonia dan ±30-50 mEq sebagai asam yang dapat ditetrasi.

Mekanisme buffer untuk mengendalikan pH cairan tubuh yang efektif adalah buffer sitem asam karbonat-bikarbonat karena jumlah CO2 yang baru dikendalikan oleh pernafasan dan konsentrasi plasma HCO3 diatur oleh ginjal.

Dalam mempertahankan volume CES (cairan ekstraseluler) ditentukan oleh jumlah total solute aktif (Na+ , Cl)osmotic didalam CES. Mekanisme yang mengendalikan kesetimbangan Na+ merupakan mekanisme utama mempertahankan volume CES.-

Fator-factor pembentukan urin

1. Hormon antidiureetik hormone (ADH)

Jika tekanan osmotic naik dalam darah , yaitu pada saat dehudrasi atau kekurangan cairan tubuh maka konsentrasi air dalam darah akan turun. Akibatnya sekresi ADH meningkat dan dialirkan oleh darah menuju ke ginjal. ADH selain meningkatkan permeabilitas sel terhadap air , juga meningkatkan permeabilitas pada saluran pengumpul sehingga memperbesar membrane sel saluran itu. Dangan demikian air akan berdifusi keluar dari pipa pengumpul lalu masuk kedalam darah. Keadaan tersebut akan memulihkan konsentrasi air dalam darah namun akibatnya urin yang dihasilkan sedikit dan lebih pekat.

2. Hormon insulin

Pada prnderita kencing manis memiliki konsentrasi insulin yang rendah sehingga kadar gula dalam darah akan tinggi. Hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan dalam proses reabsorbsi didalam tubulus distal sehinnnga dalam urin masih terdapat glukosa.

3. Jumlah air yang diminum

Jika kita meminum banyak air maka konsentrasi air dalam darah akan menjadi tinggi dan konsentrasi protein dalam darah menurun sehingga filtrasi menjadi berkurang. Keadaan ini menyebabkan darah menjadi encer , sehingga sekresi ADH akan berkurang . dengan menurunnya filtrasi dan berkurannnya ADH akan menyebabkan menurunya penyerapan air, sehingga urin yang dihasilkan akan meningkat dan dalam keadaan encer.

Kelainan dan gangguan pada ginjal antara lain :
a. Batu ginjal
Batu ginjal terjadi karena adanya endapan garam kalsium dalam ginjal sehingga menghambat keluarnya urine dan menimbulkan nyeri. Penyakit ini dapat diatasi dengan pembedahan dan sinar laser. Tujuan dari pembedahan untuk membuang endapan garam kalium. Tujuan menggunakan sinar laser untuk memecahkan endapan garam kalsium.

b. Radang ginjal (nefritis)
Radang ginjal disebut nefritis. Radang ginjal terjadi karena adanya kerusakan nefron, khususnya glomerulus yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Rusaknya nefron mengakibatkan urine masuk kembali ke dalam darah dan penyerapan air menjadi terganggu sehingga timbul pembengkakan di daerah kaki. Penderita nefritis bisa disembuhkan dengan cangkokan ginjal atau cuci darah secara rutin. Cuci darah biasanya dilakukan sampai penderita mendapatkan donor ginjal yang memiliki kesesuaian jaringan dengan organ penderita.

c. Gagal ginjal
Gagal ginjal terjadi jika salah satu ginjal tidak berfungsi. Kegagalan salah satu ginjal ini akan diambil alih tugasnya oleh ginjal lain. Namun, keadaan ini akan tetap menimbulkan resiko sangat tinggi. Mengapa demikian? Karena menyebabkan penimbunan urea dalam tubuh dan kematian. Penyakit ini dapat diatasi dengan cangkok ginjal atau menggunakan ginjal tiruan sampai ginjal yang asli dapat kembali berfungsi.

Daftar pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi :

  • Rhia Mertosono

–          Jelaskan proses pembentukan urin !

  • Marsela takalao

–          Mengapa orang yang mengalami gangguan sekresi hormon ADH akan / cenderung menderita penyakit diabetes insipidus?

–          Apa yang membedakan antara urin primer dan urin sekunder !

  • Thesni sabanari

–          Sebutkan kelainan – kelainan pada urin !

–          Bagaimana proses terjadinya jerawat dan cara mengatasinya !

  • Ricky Tamboto

–          mengapa hipertensi dapat dipengaruhi oleh gagal ginjal ?

  • Ovan Runtu

–          Apakah menstruasi tergolong pada system eksresi ? jelaskan!

  • Lusye Lamia

–          Mengapa tes urin dapat mengetahui bahwa seseorang wanita hamil?

  • Beyana makaanggkung

–          Jelaskan mekanisme pengeluaran urin !

–          Jelaskan mekanisme pengeluaran keringat untuk mengatur suhu tubuh !

–          Organ apakah yang mengalami gangguan apabila terdapatnya Kristal jengkolat !

  • Yeni maase

–          Jelaskan Peranan / keterkaitan system eksresi dalam menunjang system tubuh lainya !

–          Teknologi apasajakah yang merupakan pengembangan dari system eksresi !

  • Vivi sero

–          Jelaskan proses penyaringan darah pada ginjal !

  • Masrin Hadju

–          Apa fungsi gelambir pada jantung ?

–          Mengapa gelambir di sebelah kiri hanya 2 dan disebelah kanan ada 3???

  • Dikson kansil

–          Apakah ada pengaruh ketika seseorang tinggal memiliki satu ginjal saja???

–          Bagaimanakah proses pencangkokan itu???

[ KETERANGAN : SEMUA PERTANYAAN TELAH TERJAWAB]

HUBUNGAN TUMBUHAN DENGAN AIR


Air (rumus kimia: H2O) adalah benda tak berwarna, tak berbau dan tak berasa yang diperlukan oleh semua kehidupan di bumi agar mereka dapat bertahan hidup. Air merupakan jaringan kimia yang berada dalam bentuk cair pada tekanan biasa dan pada suhu kamar. Sekitar 3/4 dari permukaan bumi diliputi air.

Rumus kimia bagi air adalah H2O, yang berarti setiap molekul air mengandung dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Hubungan terjadi antara elektron-elektron yang membentuk bagian luar atom dan merupakan mata rantai kuat yang dinamakan ikatan kovalen.

Molekul air dapat diuraikan kepada unsur dasar dengan mengalirkan arus listrik melaluinya. Proses ini yang dikenali sebagai elektrolisis menguraikan dua atom hidrogen menerima elektron dan membentuk gas h2 pada katoda sementara empat ion oh- bergabung dan membentuk gas O2 (oksigen) pada anoda. Gas-gas ini membentuk buih dan bisa dikumpulkan.

Air juga merupakan bahan pelarut paling universal. Ini disebabkan molekul air terdiri dari dua atom hidrogen bergabung dengan satu atom oksigen pada sudut 105 derajat antara keduanya. Struktur ini menjadikan molekul air mempunyai muatan positif di sebelah atom hidrogen dan negatif di sebelah atom oksigen. Oleh karena itu, molekul air adalah dwikutub.

  1. I. Peranan Air Bagi Tumbuhan

Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak fungsi-fungsi dalam biologi sepenuhnya bergantung pada air dan sifat kehidupan secara langsung merupakan hasil dari sifat air.

Fungsi air yang paling penting yaitu dalam reaksi-reaksi biokimia dalam protoplasma yang dikontrol oleh enzim. Selain memberi fasilitas bagi berlangsungnya suatu reaksi biokimia, molekul air dapat berinteraksi secara langsung sebagai komponen reaktif dalam proses metabolisme di dalam sel.

Selain berperan dalam reaksi biokimia, air memiliki fungsi-fungsi lainya, seperti dalam:

–          Protoplasma: pada protoplasma terdapat molekul-molekul makro, meliputi protein-enzim, asam nukleat, dll, membentuk berasosiasi dengan air membentuk suatu struktur yang unik yang dikenal dengan koloida.

–          Sistem hidrolik: air dapat memberikan tekanan hidrolik pada sel sehingga menimbulkan turgor pada sel-sel tumbuhan, memberikan sokongan kekuatan pada jaringan-jaringan tumbuhan yang tidak memiliki sokongan struktur pada dinding selnya. Selain itu tekanan hidrolik juga berperan dalam proses membuka menutupnya stomata.

–          Sistem angkutan: air berperan dalam mengangkut bahan-bahan dari satu sel ke sel lainnya, dimana bahan yang diangkut dapat berupa garam-garam mineral atau bahan-bahan organic hasil fotosintesis dan olahan sel lainnya.

–          Stabilitas dan pemindahan panas: air berperan dalam pengaturan suhu tubuh tumbuhan, sehingga tumbuhan tidak mengalami kepanasan. Hal ini disebabkan karena tingginya  panas jenis yang dimiliki air, memungkinkan air sebagai dapar ( buffer ) dalam pengaturan suhu tubuh tumbuhan.

Pada tumbuhan herba yang hidup di air sekitar 85 – 95 % berat tumbuhan tersusun atas air. Dalam sel, air diperlukan sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk mengangkutnya; selain itu air diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk berbagai reaksi biokimia misalnya proses fotosintesis. Sehingga tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu, dan apabila tidak diberikan air Secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat menyebabkan kematian.

 

  1. II. Sifat-Sifat Air Yang Penting Bagi Tumbuhan

Air memiliki sifat-sifat fisika yang penting bagi kehidpan tumbuhan maupun semua organisme hidup, sifat-sifat tersebut antara lain:

–          Titik didih air  jauh lebih tinggi dibanding jenis cairan yang lain dan merupakan cairan yang paling umum. Sehingga air dapat menyerap sejumlah besar energi tanpa banyak menaikkan suhu, sehingga tubuh organisme menjadi lebih stabil dan metabolismenya akan stabil pula.

–          Air mempunyai titik densitas maksimum pada 4oc. Hal ini yang menyebabkan kenapa air jarang membeku di dalam lautan atau danau . Sehingga, organisme dapat hidup di dalamnya.

–          Molekul air mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan molekul lain ( adhesi, sedangkan kemampuan molekul tersebut untuk saling berikatan, disebut kohesi. Hal ini sangat membantu dalam proses pengangkutan air di dalam tubuh tumbuhan.

–          Air memiliki panas penguapan ( heats of vaporization ). Cukup tinggi, sekitar 540 cal gm-1. Angka tersebut sangat membantu dalam pemeliharaan temperature organisme.

–          Air  tegangan muka sangat tinggi. Sehingga air ini boleh naik didalam suatu kapiler sampai ketinggian sekitar 120cm, dan sangat  bermanfaat bagi tumbuhan, dimana memungkinkan air untuk pindah atau bergerak secara ekstensif  antar ruang partikel dan dalam  dinding sel tumbuhan.

–          Air mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mentransmisikan cahaya, sehingga membantu tumbuhan di dalam fotosintesis terutama pada tumbuhan yang berada di dalam air. Selain itu dapat memampukan cahaya untuk menembus dan menjangkau jaringan daun-daun yang lebih dalam.

–          Air berbentuk cair dalam suhu kamar, sehingga kehadiran air yang cair pada suhu kamar dan tidak bersifat toksik merupakan sifat air yang penting bagi kehidupan, selain itu air tidak dapat dimampatkan.

–          Air memiliki viskositas yang rendah, sehingga dapat dengan mudah mengalir. Hal ini sangat penting bagi kehidupan, karena dengan demikian air dengan mudah berpindah di dalam tubuh.

semua sifat fisika air di atas membuat air merupakan suatu medium ideal untuk pelaksanaan berbagai proses hidup

III. Difusi Dan Osmosis

  1. Difusi

Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah hal ini disebabkan oleh energi kinetic dari molekul, ion atau atom-atom, dapat dilihat pada gambar berikut:

Difusi terjadi akibat perbedaan konsentrasi, dimana perbedaan konsentrasi ini bisa terjadi bila terjadi perbedaan sejumlah partikel per unit volume dari suatu keadaan ke keadaan lain. Selain karena perbedaan konsentrasi, perbedaan dalam sifat juga dapat menyebabkan difusi, seperti pada gambar berikut, dimana terdapat perbedaan sifat antara gula(padat) dan air

Beberapa contoh difusi yang dapat kita lihat, antara lain:

  1. Apabila kita teteskan minyak wangi dalam botol lalu ditutup, maka bau minyak wangi tersebut akan tersebar ke seluruh bagian botol. Apabila tutup botol dibuka, maka bau minyak wangi tersebut akan tersebar ke seluruh ruangan, meskipun tidak menggunakan kipas. Hal ini disebabkan karena terjadi proses difusi dari botol minyak wangi (konsentrasi tinggi) ke ruangan (konsentrasi rendah).
  2. Apabila kita meneteskan tinta ke dalam segelas air, maka warna tinta tersebut akan menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam gelas (konsentrasi rendah) sehingga terjadi keseimbangan. Sebenarnya, selain terjadi pergerakan tinta, juga terjadi pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta (dari konsentrasi air tinggi ke konsentrasi air rendah).

Dari contoh diatas, dapat dilihat bahwa arah difusi bebas satu sama lain, tanpa menghalangi satu sama lain sampai mencapai keseimbangan dinamis.

Contoh difusi pada tumbuhan dapat dilihat pada:

Proses pertukaran gas pada tumbuhan yang berlangsung pada daun. Di dalam proses ini gas CO2 dari atsmofer masuk ke dalam rongga antar sel pada mesofil daun, yang selanjutnya digunakan untuk proses fotosintesis. Karena pada siang hari CO2 yang masuk ke daun selalu digunakan untuk fotosintesisi, maka kadar CO2 di dalam rongga antar sel daun akan selalu lebih rendah dari atsmofer, akibatnya pada siang hari akan terjadi aliran difusi gas CO2 dari atsmofer ke daun. Bersamaan dengan itu terjadi pula difusi das O2 dari rongga antar sel daun menuju atsmofir. Hal ini dikarenakan pada proses fotosintesis dihasilkan O2, yang makin lama terakumulasi di dalam rongga antar sel daun, sehingga kadarnya melebihi kada oksigen di atmosfir. Dalam kondisi seperti ini memungkinkan oksigen untuk berdifusi dari daun ke atmosfir.

Pada malam hari terjadi proses difusi yang sebaliknya , karena pada malam hari tidak terjadi proses fotosintesis dan respirasi berjalan terus, maka kandungan CO2 dalam rongga antar sel menjadi meningkat.

Laju difusi tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil.

  1. Osmosis

Osmosis pada dasarnya hampir sama dengan difusi, hanya saja osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Dimana molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai keseimbangan. Pada gambar dibawah ini menggambarkan proses dari osmosis, dimana hanya zat-zat tertentu yang mampu melewati  membrane.

Osmosis dapat dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi tanaman lebih suka menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk mencegah osmosis. Jika anda merendam wortel ke dalam larutan garam 10 % maka sel-selnya akan kehilangan rigiditas (kekakuan)nya. Hal ini disebabkan potensial air dalam sel wortel tersebut lebih tinggi dibanding dengan potensial air pada larutan garam sehingga air dari dalam sel akan keluar ke dalam larutan tersebut. Jika diamati dengan mikroskop maka vakuola sel-sel wortel tersebut tidak tampak dan sitoplasma akan mengkerut dan membran sel akan terlepas dari dindingnya. Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel ini disebut plasmolisis.

Osmosis memegang suatu peran yang sangat penting di dalam hidup tumbuhan diantaranya;

–          Penyerapan air oleh tumbuhan dari tanah melalui rambut akar, melalui mekanisme osmotic.

–          Air yang diserap dibagi-bagikan sepanjang seluruh jaringan yang hidup, dilakukan dengan proses osmosis dari sel ke sel.

–          Cahaya merangsang peningkatan osmosis pada sel pengawal, sehingga menyebabkan pengambilan air  ketika stomata membuka

–          Pertumbuhan sel yang muda sampai pemanjangan sel disempurnakan oleh kemampuan osmotic dan tekanan turgor dari  sel.

Masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergerak dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel bermembran.

IV. Potensial Air, Potensial Osmosis Dan Potensial Tekanan

Potensial Kimia Air atau Potensial Air ( PA/Ѱ ); menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Energi bebas suatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram molekul ( Energi bebas mol-1 ) disebut Potensi kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya.

Potensial kimia air merupakan konsep yang sangat penting dalam fisiologi tumbuhan. Pada tahun 1960, Ralph O. Slatyer di Canbera, Australia dan Sterling A. Taylor di Utah State University, mengusulkan bahwa potensial kimia air digunakan sebagai dasar untuk sifat air dalam system tumbuhan-tanah-udara.

Mereka mendefinisikan Potensial Air sebagai sesuatu yang sama dengan potensial kimia air dalam suatu system, dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa potensial air murni dinyatakan sebagai nol ( merupakan konvensi ), yang satuannya dapat berupa satuan tekanan ( atm., bar ) atau satuan energi.

Tekanan yang diberikan pada air atau suatu larutan akan meningkatkan energi bebasnya, sehingga potensial air dapat meningkat. Dengan konsep potensial air ini, kita bias membayangkan osmosis yang terjadi pada haipertonis ke larutan hipotonis, asal saja potensial air pada larutan yang hipertonis lebih besar dari larutan hipotonis.

Hal ini hanya dapat terjadi bila larutan hipertonis diberikan tambahan tekanan yang dapat meningkatkan nilai potensial airnya. Tekanan yang diberikan atau yang timbul dalam system ini disebut sebagai Potensial Tekanan ( PT/Ѱp ) dan di dalam kehidupan tumbuhan potensial tekanan dapat timbul dalam bentuk tekanan turgor.

Di dalam proses osmosisi, di samping komponen Potensial Air ( PA/Ѱ ), Potensial Tekanan ( PT/Ѱp ). Terdapat komponen lain yang juga penting, yaitu Potensial Osmotik

( PO/Ѱs ). Potensial osmotic ini lebih menyatakan status larutan dan status larutan ini dapat kita nyatkan dalam satuan konsentrasi, satuan tekanan atau satuan energi.

Potensial Osmotik dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain:

–          Konsentrasi; Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan nilai potensial osmotiknya. Bila zat terlarut bukan elektrolit dan molekulnya tidak mengikat air hidrasi, maka potensial osmotic larutan tersebut hamper pasti akan sebanding dengan konsentrasi molalnya.

–          Ionisasi Molekul Zat Terlarut; larutan dari suatu zat elektrolit dalalm molalitas yang sama mempunyai tekanan osmose yang lebih besar daripada larutan yang bukan elektrolit. Sehingga semakin besar daya ionisasi dari zat yang dilarutkan biasanya potensial osmosisnya juga meningkat.

–          Hidrasi Molekul Zat Terlarut; air yang berasosiasi dengan partikel zat terlarut biasanya disebut sebagai ar hidrasi. Air dapat berasosiasi dengan ion, molekul atu partikel koloida. Dampak air hidrasi terhadap suatu larutan, dapat menyebabkan larutan menjadi lebih pekat dari yang kita perkirakan.

–          Temperatur; potensial osmotic suatu larutan akan berkurang nilainya dengan naiknya suhu. Potensial osmotic suatu larutan yang ideal akan sebanding dengan suhu absolutnya.

Potensial osmotic air murni memiliki nilai sama dengan nol, sehingga kalau digunakan satuan tekanan maka nilainya akan menjadi 0 atm atau 0 bar. Klau status suatu larutan tidak berubah, maka milainya pun tidak berubah.

Nilai potensial osmotic suatu larutan dapat diukur dengan ‘osmometer’. Tekanan yang timbul pada osmometer merupakan tekanan yang nyata dan tekanan ini disebut potensial air, potensial osmotic dan potensial tekanan dapat ditulis, sbb:

PA = PO + PT

Dari rumus diatas terlihat bahwa apabila tidak ada tekanan tambahan ( PT ), maka nilai PA=PO

laporan praktikum perkembangan hewan


SIKLUS KELAMIN

A. TUJUAN PENELITIAN

PENELITIAN INI DILAKUKAN UNTUK MELIHAT DAN MENGETAHUI DAUR-DAUR ESTRUS PADA HEWAN (TIKUS PUTIH)

B. PELAKSANAAN KEGIATAN

HARI/TANGGAL            : jumat 23 oktober 2010

TEMPAT PELAKSANAAN      :    LABORATORIUM BIOLOGI FMIPA Universitas negeri manado

C. DASAR TEORI

Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu sekitar 25-40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi terjadi secara spontan.durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri membutuhkan waktu. Tahapan pada siklus estrus dapat dilihat pada vulva. Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus, metestrus, diestrus, dan proestrus. Periode-periode tersebut terjadi dalam satu siklus dan serangkaian, kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin (Nongae, 2008).

 

1. FASE PROESTRUS

Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati (Nongae, 2008). Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam. Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori membangun muatan vagina yang tebal.

 

2. FASE ESTRUS

Fase estrus merupakan periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Ovulasi berhubungan dengan fase estrus, yaitu setelah selesai fase estrus (Nongae, 2008). Pada fase ini estrogen bertindak terhadap sistem saraf pusat. Selama fase ini sapi menjadi sangat kurang istirahat yang kemungkinan dapat kehilangan dalam memperoduksi susu selama fase ini berlangsung. Pasokan darah ke dalam sistem reproduksi meningkat dan sekresi kelenjar dirangsang dengan membangun viscid mucus yang dapat diamati pada vulva. Kira-kira setelah 14-18 jam, fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina tidak mengalami ovulasi hingga setelah fase estrus (Shearer, 2008).

 

3. FASE METESTRUS

Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus bleeding (Nongae, 2008).

 

4. FASE DIESTRUS

Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada sapi hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk kehamilan (Nongae, 2008). Fase ini merupakan fase yang terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menhasilkan sejumlah progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus estrus yang baru (Shearer, 2008).
Ciri- ciri lain dari siklus estrus pada mencit adalah pada fase diestrus, vagina terbuka kecil dan jaringan berwarna ungu kebiruan dan sangat lembut. Pada fase proestrus, jaringan vagina berwarna pink kemerahan dan lembut. Pada fase estrus, vagina mirip dengan pada saat fase proestrus, namun jaringannya berwarna pink lebih terang dan agak kasar. Pada fase metestrus 1, jaringan vagina kering dan pucat. Pada metestrus II, vagina mirip metestrus 1 namun biobir vagina edematous (Hill, 2006).

A. ALAT DAN BAHAN

1.  Seekor Mus munculus

Kingdom          : Animalia
Phylum            : Chordata
Class                : Mammalia
Order              : Rodentia
Family             : Muridae

Subfamily        : Murinae
Genus              : Mus

Species              : M. musculus

2. Cutton buds

3. Larutan NaCl fisiologis

4. Pewarna Giemsa 10%

5. Alcohol 70%

6. Gelas objek

7. Pipet pastur

8. Mikroskop

A. LANGKAH KERJA

PRAKTIKUM INI DILAKUKAN DENGAN CARA : PENGULASAN

1. Ambil kapas pengulas (cotton swab) bersih dan basahi dengan larutan NaCl fisiologis.

2. Kemudian di ulaskan ke dalam mukosa vagina, harus di lakukan hati-hati agar tidak terjadi pendarahan.

3. Secepatnya ulaskan di atas gelas objek bersih dalam beberapa kali putaran.

4. Setelah mengering di fiksasi dengan methanol I% selama satu menit.

5. Setelah mengering di warnai dengan giemsa 10% selama 15 menit.

6. Sisa-sisa pewarna di cuci dengan air mengalir (kran) perlahan-lahan sampai bersih.

7. Setelah kering priksa di bawah mikroskop.

B. HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap mukosa vagina Mus Muculus maka didapatkan hasil bahwa Mus Muculus yang diteliti dittemukan berada pada fase proestrus dalam siklus birahi

 

terima kasih,,

semoga ini bermanfaat bagi kemajuan ilmu pendidikan di INdonesia

 

gleek out !!!

 

follow me on twitter @jojoehanezharth

TULANG



Tulang adalah jaringan yang tersusun oleh sel dan didominasi oleh matrix kolagen ekstraselular (type I collagen) yang disebut sebagai osteoid. Osteoid ini termineralisasi oleh deposit kalsium hydroxyapatite, sehingga tulang menjadi kaku dan kuat.

A. Proses pembentukan Tulang

Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6-7 minggu dan berlangsung sampai dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki daerah osifikasi, bila daerah tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas, bila tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas.

Proses osifikasi endokondral dimulai dengan ujung pada jaringan kartilago yang disebut sebagai “pusat osifikasi primer” yang terlihat sejak perkembangan periode fetal, walau beberapa tulang pendek memulai proses osifikasi setelah kelahiran. Proses osifikasi kedua terjadi setelah lahir dan membentuk epipisis dari tulang panjang dan tulang ekstremitas dari tulang iregular dan pipih. Baik diapisis maupun epipisis dari tulang panjang dipisahkan oleh bagian akrtilago (lempeng epipiseal). Saat anak sampai pada maturitas skeletal (usia 18 hingga 25 tahun), seluruh jaringan kartilago digantikkan dengan tulang, dengan jalan menyatukan diapisis dan epipisis

B. Sel-sel Tulang

Osteoblast : yang mensintesis dan menjadi perantara mineralisasi osteoid. Osteoblast ditemukan dalam satu lapisan pada permukaan jaringan tulang sebagai sel berbentuk kuboid atau silindris pendek yang saling berhubungan melalui tonjolan-tonjolan pendek.
Osteosit : merupakan komponen sel utama dalam jaringan tulang. Mempunyai peranan penting dalam pembentukan matriks tulang dengan cara membantu pemberian nutrisi pada tulang.
Osteoklas : sel fagosit yang mempunyai kemampuan mengikis tulang dan merupakan bagian yang penting. Mampu memperbaiki tulang bersama osteoblast. Osteoklas ini berasal dari deretan sel monosit makrofag.

Sel osteoprogenitor : merupakan sel mesenchimal primitive yang menghasilkan osteoblast selama pertumbuhan tulang dan osteosit pada permukaan dalam jaringan tulang.
Tulang membentuk formasi endoskeleton yang kaku dan kuat dimana otot-otot skeletal menempel sehingga memungkinkan terjadinya pergerakan. Tulang juga berperan dalam penyimpanan dan homeostasis kalsium. Kebanyakan tulang memiliki lapisan luar tulang kompak yang kaku dan padat.

 

 

 

C. JENIS JARINGAN TULANG

Secara histologis tulang dibedakan menjadi 2 komponen utama, yaitu :
Tulang muda/tulang primer
Tulang dewasa/tulang sekunder

Kedua jenis ini memiliki komponen yang sama, tetapi tulang primer mempunyai serabut-serabut kolagen yang tersusun secara acak, sedang tulang sekunder tersusun secara teratur.

1. Jaringan Tulang Primer

Dalam pembentukan tulang atau juga dalam proses penyembuhan kerusakan tulang, maka tulang yang tumbuh tersebut bersifat muda atau tulang primer yang bersifat sementara karena nantinya akan diganti dengan tulang sekunder
Jaringan tulang ini berupa anyaman, sehingga disebut sebagai woven bone. Merupakan komponen muda yang tersusun dari serat kolagen yang tidak teratur pada osteoid. Woven bone terbentuk pada saat osteoblast membentuk osteoid secara cepat seperti pada pembentukan tulang bayi dan pada dewasa ketika terjadi pembentukan susunan tulang baru akibat keadaan patologis.
Selain tidak teraturnya serabut-serabut kolagen, terdapat ciri lain untuk jaringan tulang primer, yaitu sedikitnya kandungan garam mineral sehingga mudah ditembus oleh sinar-X dan lebih banyak jumlah osteosit kalau dibandingkan dengan jaringan tulang sekunder.
Jaringan tulang primer akhirnya akan mengalami remodeling menjadi tulang sekunder (lamellar bone) yang secara fisik lebih kuat dan resilien. Karena itu pada tulang orang dewasa yang sehat itu hanya terdapat lamella saja.

2. Jaringan Tulang Sekunder

Jenis ini biasa terdapat pada kerangka orang dewasa. Dikenal juga sebagai lamellar bone karena jaringan tulang sekunder terdiri dari ikatan paralel kolagen yang tersusun dalam lembaran-lembaran lamella. Ciri khasnya : serabut-serabut kolagen yang tersusun dalam lamellae(lapisan) setebal 3-7μm yang sejajar satu sama lain dan melingkari konsentris saluran di tengah yang dinamakan Canalis Haversi. Dalam Canalis Haversi ini berjalan pembuluh darah, serabut saraf dan diisi oleh jaringan pengikat longgar. Keseluruhan struktur konsentris ini dinamai Systema Haversi atau osteon.

 

D. PERTUMBUHAN TULANG

 

Perkembangan tulang pada embrio terjadi melalui dua cara, yaitu osteogenesis desmalis dan osteogenesis enchondralis. Keduanya menyebabkan jaringan pendukung kolagen primitive diganti oleh tulang, atau jaringan kartilago yang selanjutnya akan diganti pula menjadi jaringan tulang. Hasil kedua proses osteogenesis tersebut adalah anyaman tulang yang selanjutnya akan mengalami remodeling oleh proses resorpsi dan aposisi untuk membentuk tulang dewasa yang tersusun dari lamella tulang. Kemudian, resorpsi dan deposisi tulang terjadi pada rasio yang jauh lebih kecil untuk mengakomodasi perubahan yang terjadi karena fungsi dan untuk mempengaruhi homeostasis kalsium. Perkembangan tulang ini diatur oleh hormone pertumbuhan, hormone tyroid, dan hormone sex.

 

1. Osteogenesis Desmalis

Nama lain dari penulangan ini yaitu Osteogenesis intramembranosa, karena terjadinya dalam membrane jaringan. Tulang yang terbentuk selanjutnya dinamakan tulang desmal. Yang mengalami penulangan desmal ini yaitu tulang atap tengkorak.
Mula-mula jaringan mesenkhim mengalami kondensasi menjadi lembaran jaringan pengikat yang banyak mengandung pembuluh darah. Sel-sel mesenkhimal saling berhubungan melalui tonjolan-tonjolannya. Dalam substansi interselulernya terbentuk serabut-serabut kolagen halus yang terpendam dalam substansi dasar yang sangat padat.

 

E. Bentuk Tulang

Tulang dalam tubuh setiap makhluk memiliki bentuk yang beranekaragam termasuk tulang manusia. Tulang pada tubuh manusia terdiri dari beberapa macam yaitu:

1. Tulang Pipa atau Tulang Panjang (Long Bone)

Sesuai dengan namanya tulang pipa memiliki bentuk seperti pipa atau tabung dan biasanya berongga. Diujung tulang pipa terjadi perluasan yang berfungsi untuk berhubungan dengan tulang lain. Tulang pipa terbagi menjadi tiga bagian yaitu: bagian tengah disebut diafisis, kedua ujung disebut epifisis dan diantara epifisis dan diafisis disebut cakra epifisis. Beberapa contoh tulang pipa adalah pada tulang tangan diantaranya tulang hasta (ulna), tulang pengumpil (radius) serta tulang kaki diantaranya tulang paha (femur), dan tulang kering (tibia).

Tulang Pipa terbagi menjadi 3 bagian yaitu :

Bagian ujung yang disebut EPIFISE, bagian tengah yang disebut DIAFISE, di pusatnya terdapat rongga yang berisi sumsum tulang. Rongga terbentuk karena aktivitas osteoklas (perombak tulang). Di antara epifise dan diafise terdapat cakram epifise. Cakram ini kaya akan osteoblas dan menentukan pertumbuhan tinggi.

Sumsum Tulang ada dua jenis yaitu :

  • Sumsum tulang merah (MEDULLA OSSIUM RUBBA).
  • Sumsum tulang kuning (MEDULLA OSSIUM FLAVA).

2. Tulang Pipih (Flat Bone)

Bentuk tulang yang kedua yaitu tulang pipih. Tulang pipih tersusun atas dua lempengan tulang kompak dan tulang spons, didalamnya terdapat sumsum tulang. Kebanyakan tulang pipih menyusun dinding rongga, sehingga tulang pipih ini sering berfungsi sebagai pelindung atau memperkuat. Contohnya adalah tulang rusuk (costa), tulang belikat (scapula), tulang dada (sternum), dan tulang tengkorak.

 

3. Tulang Pendek (Short Bone)

Dinamakan tulang pendek karena ukurannya yang pendek dan berbentuk kubus umumnya dapat kita temukan pada pangkal kaki, pangkal lengan, dan ruas-ruas tulang belakang.

4. Tulang Tak Berbentuk (Irreguler Bone)

Tulang tak berbentuk memiliki bentuk yang tak termasuk ke dalam tulang pipa, tulang pipih, dan tulang pendek. Tulang ini terdapat di bagian wajah dan tulang belakang. Gambar tulang wajah (bagian mandibula) di samping termasuk tulang irreguler.

Tulang menurut bahan pembentuknya, tulang dapat dibedakan menjadi tulang rawan (kartilago) dan tulang keras (= tulang/osteon).

a.  Tulang rawan

Tulang rawan bersifat lentur, tersusun atas sel-sel tulang rawan (kondrosit) yang mensekresikan matriks (kondrin) berupa hialin atau kolagen. Rawan pada anak berasal dari mesenkim dengan kandungan kondrosit lebih banyak dari kondrin. Sebaliknya, pada orang dewasa kondrin lebih banyak dan rawan ini berasal dari selaput tulang rawan (perikondrium) yang banyak mengandung kondroblas (pembentuk kondrosit).Tulang rawan pada dewasa antara lain terdapat pada cincin batang tenggorokan dan daun telinga. Matriks tulang rawan merupakan campuran protein dengan polisakarida yang disebut kondrin.

Tulang rawan ada tiga tipe yaitu: hialin, elastik dan serat.

1) Tulang Rawan Hialin

Matriksnya memiiki serat kolagen yang tersebar dalam bentuk anyaman halus dan rapat. Terdapat pada saluran pernapasan dan ujung tulang rusuk. Tulang rawan hialin bening seperti kaca.

2) Tulang Rawan Elastik

Susunan polikandrium, matriks , sel dan lacuna tulang rawan elastic sama dengan tulang rawan hialin. Akan tetapi serat kolagen tulang rawan elastic tidak tersebar dan nyata seperti pada tulang rawan hialin. Bentuk serat – serat elastic bergelombang . tulang rawan elastic terdapat pada epiglottis dan bagian luar telinga.

3) Tulang Rawan Fibrosa (Fibrokartilago) / Serat

Matriksnya mengandung serabut kolagen kasar dan tidak teratur; terletak di perlekatan ligamen, sambungan tulang belakang, dan simfisis pubis. Sifat khas dari tulang rawan ini adalah lakuna – lakunanya bulat atau bulat telur dan berisi sel – sel (kondrosit).

Kartilago pertama kali muncul pada embrio yang berumur lima minggu. Pertumbuhannya dimulai dengan kondensasi dari mesenkim yang menghasilkan pusat kondrifikasi (chondrification centre). Sel-sel mesenkim ini kemudian berproliferasi serta berdiferensiasi menjadi chondroblast. Chondroblast selanjutnya mensekresikan serat-serat kolagen dan substansi dasar matirks. Chondroblast yang dikelilingi sekretnya ini disebut dengan chondrocyte. Chondrocyte akan terus menerus mengeluarkan matriks sehingga chondrocyte yang berdekatan akan saling mendorong. Lewat peristiwa ini, yang disebut pertumbuhan interstitial, kartilago akan bertambah panjang. Sel-sel mesenkim yang letaknya di perifer akan berdiferensiasi menjadi fibroblast. Fibroblast akan membuat suatu jaringan ikat kolagen yang padat, perichondrium. Lewat mekanisme yang mirip dengan pertumbuhan interstitial, osteoblast di perichondrium akan memperlebar diameter (pertumbuhan ke arah perifer) dari kartilago, yang disebut pertumbuhan aposisional.

b. Tulang keras (Osteon)

Bersifat keras dan berfungsi menyusun berbagai sistem rangka. Pembentukan tulang keras berawal dari kartilago (berasal dari mesenkim). Kartilago memiliki rongga yang akan terisi oleh osteoblas (sel-sel pembentuk tulang). Osteoblas membentuk osteosit (sel-sel tulang). Setiap satuan sel-sel tulang akan melingkari pembuluh darah dan serabut saraf membentuk SISTEM HAVERS. Matriks akan mengeluarkan kapur dan fosfor yang menyebabkan tulang menjadi keras. tersusun dari bagian – bagian sebagai berikut:

a. Ostreoprogenator, merupakan sel khusus yaitu derivate mesenkima yang memiliki potensi mitosis yang mampu berdiferensiasi menjadi osteoblas terdapat dibagian luar membrane (periosteum)

b. Osteoblas merupakan sel tulang muda yang akan membentuk osteosit.

c. Osteosit merupakan sel – sel tulang dewasa.

d. Osteoklas merupakan sel yang berkembang dari monosit dan terdapat disekitar permukaan tulang . fungsi osteoklas untuk perkembangan, pemeliharaan , perawatan dan perbaikan tulang.

 

terima kasih,,

gleek out !!!

follow me on twitter @jojoehanezharth

fisiologi seluler dan homeostasis


FAAL SELULER

Fisiologi (ilmu faal) yaitu ilmu yang mempelajari tentang fungsi tubuh atau bagaimana tubuh bekerja

Pendekatan faal

1.  Pendekatan mekanis yaitu bagaimana tubuh bekerja

2. pendekatan teleogis yaitu fenomena berdasarkan kebutuhan tubuh itu sendiri

Berkaitan dengan anatomi yaitu fungsi yang terkait dengan struktur (bentuk ,susunan ,interaksi dengan bagian)

 

TINGKAT ORGANISASI DALAM TUBUH

  • Organisme multi sel
  • Fungsi dasar yang dijalankan :

Memperoleh zat gizi dan oksigen

Menjalankan reaksi kimia Mengaluarkan karbondioksida dan zat sisa

Memsintesis protein dan komponen lain

Sensitive dan respontif terhadap perubahan

Mengontrol pertukaran gas

Bereproduksi

JARINGAN

  • 4 jaringan besar : jaringan otot ,epitel ,syaraf ,ikat

SISTEM

  • Ada 11 sistem tubuh :
  1. Sistem sirkulasi ( cardiovascular )
  2. Sistem pencernaan ( digestive )
  3. Sistem respirasi ( respiratori )
  4. Sistem kemih ( urinary )
  5. Sistem rangka ( skeletal )
  6. Sistem otot ( muscular )
  7. Sistem kulit ( integument )
  8. Sistem pertahanan tubuh ( imun )
  9. Sistem saraf ( neuron )
  10. Sistem hormone ( endokrin )
  11. Sistem reproduksi

S E L

Setiap organisme tersusun dari salah satu diantara dua jenis sel yang secara struktural berbeda, sel prokariotik dan sel eukariotik. Hanya bakteri dan arkhea; alga hijau biru yang memiliki sel prokariotik. Sedangkan protista, tumbuhan, jamur dan hewan semuanya mempunyai sel eukariotik.

Kenapa dinamakan sel prokariotik dan eukariotik? Apa perbedaannya?

Sel Prokariotik. Kata prokariota (prokaryote) berasal dari bahasa Yunani, pro yang berarti sebelum dan karyon yang artinya kernel atau juga disebut nukleus. Sel prokariotik tidak memiliki nukleus. Materi genetiknya (DNA) terkonsentrasi pada suatu daerah yang disebut nukleoid, tetapi tidak ada membran yang memisahkan daerah nukleoid ini dengan bagian sel lainnya.

Sedangkan sel eukariotik, eu berarti sebenarnya dan karyon berarti nukleus. Eukariotik mengandung pengertian memiliki nukleus sesungguhnya yang dibungkus oleh selubung nukleus.

Tabel perbedaan antara sel prokariotik dan eukariotik

Struktur Prokariotik Eukariotik
Membran nucleus +
Membran plastid +
Nukleus +
Nukleolus +
Plastida (plasma sel) +/-
Mitokondria +
Badan golgi +
Kromosom + (tunggal) + (ganda)
DNA + (telanjang) + (dengan protein)
RNA + +
Histon +
Pigmen + +
Pembelahan amitosis mitosis/meiosis
Contoh Hanya bakteri dan arkhea; alga hijau biru yang memiliki sel prokariotik Protista, tumbuhan, jamur dan hewan

Sel terbagi :

  1. ORGANEL SEL:

1)      Membrane Sel

Membrane sel dibentuk oleh lipid dan protein ,lipid berperan untuk menghambat gerakan air dan zat terlarut antara berbagai kompartemen sedangkan protein membentuk celah yang dapat berupa enzimgolong dalam membrane plasma adalah intisel ,retikulum endolplasma,mitokondria ,lisosom dan apparatus golgi.

Membrane sel berfungsi untuk membungkus sel ,membrane sel berbentuk tipis ,lentur dan tebal 7,5 – 10 nm dengan persentase protein55,phospolipid 25 ,kolesterol 13 ,lipid lain 4 dan karbohidrat 3

lipid bilayer

phospolipid setebal 2 molekul dengan ujung bipolar

bagian hidrofobik ( asam lemak ) ditengah – non polar

mudah dilewati oleh O2 dan CO2 serta alcohol

bersifat cair dan tidak padat—mudah bergeser

ujung polar—hidrofilik

bermuatan listrik ,mengandung gugus fosfat yang bermuatan negative

Membrane berisi kolesterol—menimbulkan stabilitas cairan dan membrane.

Protein umum pada membrane plasma adalah : umumnya adalah glikoprotein

Integral: muncul dikedua permukaan ,merupakan saluran air dan ion larut air serta bersifat selektif dan berperan dalam transfor aktif dan enzim

Protein perifer:terdapat pada suatu permukaan dalam berperan dalam pengontrolan fungsi intrasel

Karbohidrat

 Bentuk glikoprotein atau glikolipid

 Proteoglikan :glokokaliks diluar permukaan bersifat bermuatan negative dan akan menolak muatan negative lainnya ,melekat pada glikoliks sel lain,kemudian sebagai substansi reseptor hormone dan terlibat dalam reaksi imun

2)      Reticulum Endoplasma

–  jaringan vesikel dan tubulus berisi enzim

–  luas permukaan bias 30-40x membrane sel

– RE granularis : RNA + protein dan berperan dalam sintesa protein baru

– RE agranulari: berperan dalam sintesa substansi lipid dan proses enzimatik

– Fungsi RE:

? Sintesis protein RE granularis yang dikirim ke sitoplasma dan matriks endoplasma

? Sintesis lipid :RE agranularis yaitu phospolipid dan kolesterol dan bergabung bersama lipid bilayer RE ,kemudian RE membentuk vesikel —memisahkan dri

? Sintesis enzim:pengontrol glikogenolisis dan enzim detoksifikasi zat peruksak sel

3)      Mitokondria

– Merupakan generator sel yang membentuk ATP

– Biasa memperbanyak diri dan mengandung DNA

4)      Lisosom

– Merupakan organel vesikuler ,lepas dari golgi

– Berperan dalam system pencernaan intrasel

– Berisi enzim hidrolisis guna memecah protein , glikogen dan lipid

– vesikel bersifat digestif

– sisa digesti dikeluarkan secara eksositosis

5)      Apparatus Golgi

– bersama vesikel RE memproses zat menjadi lisosom ,vesikel sekresi dan komponen lainnya

– berfungsi sebagai:

sintesis karbohidrat tertentu

? komponen utama proteoglikan

? komponen utama substansi interstitium

? komponen utama matrik rawan dan tulang

? pemprosesan protein dari RE

? pembentukan vesikel sekresiyang bergabungbersama membrane sel dan mengeluarkan isi secara eksositosis

  1. Nucleus

Merupakan pusat kontol sel : DNA

Membrane nucleus:

 terdiri dari 2 lapis dimana lapisan luar menyatu dengan RE

 ruang antar lapisan berhubungan dengan RE

 berisi ribuan pori – pori

Nucleoli: tanpa membrane dan merupakan akumulasi RNA dan protein

  1. Sitoplasma

o Berisi elektrolit ,protein ,lipid dan karbohidrat

o Air ( 70 -85% ) kecuali sel lemak

HOMEOSTASE DAN HOMEOSTASIS

Homeostase dalam bidang biologi diartikan sebagai suatu keadaan internal tubuh suatu organisme yang dalam keadaan setimbang atau stabil.

Homeostasis dalam bidang biologi diartikan sebagai suatu mekanisme di dalam tubuh suatu organisme yang senantiasa mengupayakan keadaan setimbang atau stabil.

Istilah ini dikemukakan pertama kali oleh Walter Bradford Cannon pada tahun 1932 dari istilah Yunani homoios yang berarti sama, serupa atau menyerupai dan stasis yang berarti kedudukan atau keadaan.

Sebagai contoh:

Dalam keadaan homeostase yang terjaga, suhu normal tubuh manusia adalah 36,5º. Dalam cuaca yang panas, agar supaya suhu tubuh tetap terjaga pada kondisi homeostase, terjadi reaksi homeostasis berupa pembuangan panas tubuh melalui berkeringat dan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) pada kulit sehingga wajah dan kulit memerah, rasa haus agar banyak minum sehingga terjadi pendinginan badan di samping mengganti kembali cairan yang banyak keluar, nafsu makan berkurang agar tidak terjadi peningkatan metabolisme yang menghasilkan panas, rasa lesu dan kantuk agar badan beristirahat sehingga mengurangi metabolisme, dsb.

HOMEOSTASIS

Permasalahan yang dihadapi oleh hewan

Lingkungan (faktor fisika dan kimia) senantiasa berubah sepanjang waktu. Sistem fisiologi dapat terganggu oleh perubahan lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap kondisi internal tubuh hewan dan dapat menyebabkan kematian. Bagaimana hewan memelihara kondisi internal tubuhnya??

 

KONSEP HOMEOSTASIS

Pemeliharaan lingkungan internal yang relatif stabil

Homeo yaitu sama dan Stasis yaitu berdiam dan menetap

Berfungsi bagi sel untuk hidup dan berfungsi

Harus ada

Lingkungan eksternal (plasma ,cairan ,ekstraseluler)

Lingkungan internal (dalam sel)

Faktor internal

1. Kosentrasi melekul gizi

2. Kosentrasi O2 dan CO2

3. Kosentrasi zat sisa

4. PH

5. Kosentrasi air,garam,dan elektrolik lain

6. Suhu

7. Volume dan tekanan

 

 

 

Perubahan kondisi fisika dan kimia perairan yang terjadi secara terus menerus merupakan ancaman bagi kehidupan organisme yang hidup didalam lingkungan tersebut. Perairan tawar, payau dan laut memiliki sifat yang tidak sama. Perairan tawar bersifat lebih encer dari konsentrasi cairan internal tubuh internal hewan yang hidup dalam habitat air tawar, sedangkan air laut bersifat lebih pekat dibandingkan cairan tubuh internal.

Kepiting bakau (Scylla serrata) akan hidup dengan baik jika berada dalam kisaran salinitas 14-20 ppt, walaupun dapat toleran pada salinitas 5 ppt dan 25 ppt.

Suhu perairan juga senantiasa berubah dan suhu dalam perairan tertentu dapat menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah bagi proses fisiologi dalam tubuh.

Sifat perairan sebagai kondisi lingkungan eksternal berpengaruh terhadap kondisi lingkungan internal (Claude Bernard menyebutnya milieu intérieur).

hewan air cenderung menjaga stabilitas lingkungan internalnya agar organ, jaringan, sel dan molekul dalam tubuhnya berfungsi normal.

Kecenderungan untuk mengatur dan mempertahankan stabilitas lingkungan internal, menurut Walter Canon (1929) disebut homeostasis.

Stabilitas lingkungan internal hewan air tersebut dijaga dengan sistem pengendalian fisiologis. Meskipun kondisi (fisika & kimia) eksternal fluktuasinya besar, kondisi (fisika & kimia) internal tubuh hewan fluktuasinya kecil dan dijaga agar senantiasa stabil .

Stabilitas lingkungan internal tubuh hewan air harus senantiasa dijaga dalam kisaran yang sempit, agar dapat hidup dengan baik dalam habitatnya.

Sel-sel dalam tubuh hewan air dijaga sedemikian rupa sehingga tidak saja senantiasa berada dalam suhu yang konstan, tetapi pH, konsentrasi gula, tekanan osmotic, konsentrasi ion dan sebagainya juga dalam kondisi konstan.

Jadi, hewan air yang dapat lulus hidup dalam lingkungan yang beragam dan berubah-ubah mencerminkan kemampuan hewan tersebut dalam menjaga stabilitas kondisi lingkungan internalnya.

Homeostasis merupakan konsep terpenting dalam sejarah perkembangan biologi. Hal itu memberikan kerangka konseptual guna menginterpretasikan berbagai data fisiologis dalam tubuh hewan.

Evolusi homeostasis dan sistem fisiologis yang memelihara homeostasis tersebut merupakan faktor penting agar hewan dapat hidup baik dalam lingkungan yang sesuai guna mendukung proses fisiologis, maupun dalam lingkungan yang kurang sesuai bagi proses kehidupan.

Fenomena pemeliharaan lingkungan internal tubuh hewan yang disebut homeostasis ini dilakukan oleh semua spesies hewan, secara terus menerus.

Pemeliharaan lingkungan internal tubuh hewan meliputi mekanisme fisiologi berbagai organ dan mencakup proses fisiologi pada level sel. Organisme uniseluler yang hidup di habitat perairan juga menunjukkan homeostasis.

Protozoa dapat hidup dalam lingkungan air tawar dan lingkungan lain yang lebih buruk karena konsentrasi garam, gula, asam amino dan bahan terlarut lainnya diregulasi oleh permeabilitas selaput sel, pengangkutan aktif dan mekanisme lainnya.

Permeabilitas selaput, transport aktif  memelihara kondisi intraseluler untuk senantiasa berada dalam batas-batas yang sesuai untuk kebutuhan metabolik sel.

Kondisi homeostasis dalam sel dan didalam tubuh organisme multiseluler dijaga dengan proses umpan balik (feedback).

 

Wujud Dari Faktor-Faktor Mekanisme Kontrol Homeostasis

Pada tingkat sistemik:

Pusat kontrolnya adalah SSP, reseptornya berupa organ-organ reseptor seperti retina pada mata, organ penghidu pada hidung, dsb, sedang efektornya berupa organ-organ efektor yang terdapat pada jaringan otot-otot polos maupun otot-otot seran lintang (otot skelet)

Pembawa komunikasinya adalah sistem saraf tepi; serabut-serabut saraf aferent yang dari organ reseptor menuju SSP, dan serabut-serabut saraf eferen yang dari SSP menuju organ efektor.

Bentuk sinyal-sinyal untuk komunikasi (lewat jaringan saraf) disebut impuls, dan mediator penghubung sinyal-sinyal itu berupa hormon atau neurotransmiter.

Pada tingkat seluler:

Pusat kontrolnya DNA pada inti sel (nukleus), reseptor dan efektornya berupa rantai-rantai polipeptid yang spesifik pada membran sel, mediator komunikasinya adalah RNA, dan sinyal-sinyal komunikasinya dihasilkan oleh reaksi-reaksi biokimiawi sesuai dengan stimulus perubahan lingkungan yang terjadi.

Apa itu reaksi negatif, reaksi positif dan ketidakseimbangan homeostasis ?

Reaksi negatif homeostasis adalah reaksi yang bersifat mengurangi terhadap tekanan kuat yang diterima pusat kontrol, sedang reaksi positif homeostasis adalah reaksi yang bersifat meningkatkan terhadap tekanan lemah yang dialami pusat kontrol, akibat dari perubahan-perubahan lingkungan yang dimonitor reseptor.

Contoh reaksi negatif adalah: bagaimana pusat kontrol mempertahankan suhu badan terhadap tekanan suhu luar yang terlalu panas, ataupun terlalu dingin (termoregulasi); bagaimana tetap menjaga kadar gula darah tidak naik (glukoregulasi), atau bagaimana agar cairan tubuh tidak menjadi pekat akibat dehidrasi (osmoregulasi).

Contoh reaksi positif adalah: pengeluaran oksitosin pada saat partus untuk meningkatkan kontraksi uterus, pengeluaran trombin untuk pembekuan darah pada saat terjadi perdarahan, dsb

Ketidakseimbangan homeostasis terjadi bila faktor kontrol homeostasis tidak lagi mampumenjaga homeostase kembali setimbang seperti semula. Faktor-faktor penyakit, keracunan, kurang gizi, kecapain dan usia lanjut bisa menjadi penyebabnya.

 

 

 

SIFAT SYSTEM PENGATUR

Umpan balik

  • Didalam proses umpan balik, informasi indrawi tentang variabel suhu atau pH misalnya, digunakan untuk mengendalikan proses dalam sel dan jaringan serta organ yang berpengaruh terhadap level variabel tersebut.
  • Homeostasis diregulasi dengan umpan balik negatif.

Umpan balik negatif

  • Sebagai gambaran tentang umpan balik negatif adalah dengan mengamati bekerjanya thermostat yang dipasang dalam akuarium untuk menjaga agar suhu air dalam akuarium tersebut berada pada suhu yang diinginkan.
  • Bilamana suhu air medium lebih rendah dari suhu yang diinginkan, sensor memberikan informasi agar pemanas memanaskan medium.
  • Jadi pengaturan suhu tubuh membutuhkan “thermostat” yang informasinya harus diberikan pada sistem pengendali suhu.
  • Jika informasi yang sampai pada sistem pengendali suhu adalah bahwa suhu tubuh lebih rendah dari yang semestinya, maka sistem pengendali akan meningkatkan suhu tubuh sampai kondisi semestinya dan pemanasan berhenti sampai terjadinya penurunan suhu lebih rendah dari yang semestinya.

Umpan balik positif

  • Peran umpan balik positif dalam pemeliharaan homeostasis sangat kecil.
  • Contoh umpan balik positif adalah proses pembekuan darah.
  • Mekanisme umpan balik positif berperan dalam memelihara volume darah yang beredar dalam tubuh agar senantiasa konstan.
  • Mekanisme umpan balik positif dalam mengendalikan fungsi fisiologis pada hewan dapat berbahaya.
  • Misalnya, suhu tubuh mamalia meningkat, jika gangguan awal ini kemudian mengalami umpan balik positif maka hasilnya adalah peningkatan suhu tubuh lebih lanjut yang tentunya berbahaya bagi hewan tersebut.
  • Contoh lain umpan balik positif adalah pada fungsi saraf.
  • Jika terdapat rangsang pada sel syaraf akan menyebabkan perubahan permeabilitas selaput yang memungkinkan adanya aliran ion sodium (Na+) masuk kedalam neuron. Aliran masuk ion Na+ pada fase awal terjadinya potensial aksi menghasilkan respon depolarisasi yang menyebabkan aliran masuk ion Na+ lebih lanjut.
  • Sistem umpan balik terdiri atas reseptor, pusat integrasi dan efektor.

MEKANISME KONTROL HOMEOSTASIS

Prinsip mekanisme kontrol homeostasis dalam bidang fisiologi ditentukan oleh 3 faktor penting, yakni:

  1. I.     Reseptor

Reseptor adalah faktor yang menerima dan mengolah setiap rangsang yang timbul dari setiap perubahan lingkungan sekitar, untuk dijadikan stimulus dan dikirim (dilaporkan) ke pusat kontrol.

  1. II.     Pusat kontrol

Pusat kontrol adalah faktor yang menerima stimulus dari reseptor untuk diolah dan diinterpretasi dan dijadikan stimulus balik sebagai reaksi-reaksi untuk menjawab (mengendalikan) perubahan lingkungan yang dilaporkan reseptor.

  1. III.     Efektor

Efektor adalah faktor penerima stimulus balik dari pusat kontrol, yang mengolah stimulus tersebut menjadi suatu aktifitas gerak untuk menjawab (mengendalikan) perubahan lingkungan sesuai yang dikehendaki pusat kontrolnya.

 

  • Reseptor mendeteksi perubahan lingkungan, baik lingkungan eksternal dimana hewan itu hidup (misalnya perubahan suhu lingkungan) atau lingkungan internalnya (misalnya pH intraseluler).
  • Reseptor banyak jumlahnya dan masing-masing hanya dapat memantau aspek lingkungan tertentu.
  • Fungsi reseptor adalah mengkonversi perubahan lingkungan yang terdeteksi menjadi potensial aksi yang dikirim melalui sistem saraf ke pusat integrasi.

FEEDFORWARD

  • Selain mekanisme feedback, metode fisiologis lain yang terpenting untuk mengendalikan kondisi internal hewan adalah feedforward
  • Untuk mengurangi gangguan fisiologis, hewan menunjukkan perilaku yang mencegah terjadinya gangguan tersebut, jadi feedforward merupakan aktivitas antisipatif.
  • Contohnya, sambil makan biasanya hewan minum juga.

 

  • Masuknya pakan kedalam meningkatkan osmolaritas isi saluran pencernaan yang dapat menyebabkan hilangnya air dari cairan tubuh (melalui osmosis), mengakibatkan dehidrasi dan kesetimbangan osmotik terganggu.
  • Segera setelah makan atau sambil, umumnya hewan minum air untuk mengurangi gangguan homeostasis cairan tubuh.
  • Perilaku menghindari makanan yang menyebabkan muntah membantu hewan untuk memelihara homeostasis.

Conformer dan Regulator

  • Jika hewan air dipaparkan dalam lingkungan yang mengalami perubahan (misalnya perubahan salinitas medium, perubahan kandungan oksigen terlarut, perubahan suhu medium, dll.), maka hewan tersebut dapat memberikan respon konformitas atau regulasi.
  • Perubahan lingkungan eksternal dapat menginduksi perubahan internal tubuh hewan sesuai dengan kondisi eksternal
  • Hewan yang memungkinkan kondisi internalnya berubah bilamana menghadapi variasi lingkungan eksternal disebut konformer (conformer).
  • Suhu tubuh ikan akan rendah ketika berada dalam perairan yang dingin dan akan tinggi ketika berada dalam perairan yang hangat.
  • Jadi, tiap sel dalam tubuh ikan tersebut harus mengatasi pengaruh perubahan suhu eksternal.

Osmoconformer

  • Berbagai hewan air tidak dapat memelihara konsentrasi osmotik cairan internal tubuhnya jika salinitas mediumnya berubah-ubah.
  • Bintang laut, Asterias, adalah hewan osmokonformer (osmoconformer) yang cairan internal tubuhnya dengan cepat mencapai kesetimbangan dengan air laut yang mengelilinginya.

Hewan ini meningkatkan konsentrasi cairan tubuh jika berada dalam air bersalinitas tinggi dan menurunkan cairan tubuhnya bilamana berada dalam air bersalinitas rendah

 

Oxyconformer

  • Cacing Annelida yang bersifat oksikonformer (oxyconformer), yakni hewan yang laju konsumsi oksigennya menyesuaikan dengan ketersediaan O2 terlarut di lingkungan eksternalnya.
  • Jika Annelida berada dalam lingkungan perairan yang kaya akan oksigen, maka konsumsi oksigennya meningkat,
  • sebaliknya jika hewan tersebut berada dalam lingkungan yang kandungan oksigen terlarutnya rendah, konsumsi oksigennya menurun.

 

Batas perubahan eksternal bagi hewan konformer dipengaruhi oleh toleransi jaringan tubuhnya terhadap perubahan internal yang disebabkan o

leh adanya perubahan lingkungan eksternal.

hubungan antara nilai lingkungan eksternal (misalnya salinitas, kandungan O2 terlarut, dll) dengan nilai internal (garis yang tidak putus-putus) berupa garis lurus dengan kemiringan 1. Bilamana hewan tidak dapat menghasilkan respon fisiologi atau respon lain yang diperlukan untuk mengatasi perubahan eksternal, maka nilai internalnya bergantung dengan nilai eksternalnya, menyerupai “garis konformitas” (garis putus-putus).

grafik hubungan antara nilai variable eksternal dengan nilai internal menunjukkan bahwa hewan regulator dapat mempertahankan stabilitas internal dalam kisaran lingkungan eksternal yang luas. Garis konformitas dibuat sebagai pembanding. Pada lingkungan yang ekstrim, hewan regulator tidak dapat meregulasi kondisi internal dan terpaksa menjadi konformer. Lebar zona stabilitas dipengaruhi oleh spesies dan variabel lingkungan yang dihadapinya

Regulator

Hewan air yang termasuk regulator menggunakan mekanisme perilaku, biokimia maupun fisiologis untuk senantiasa menjaga kondisi internal tubuhnya ketika berada dalam kondisi lingkungan eksternal yang berubah, sehingga senantiasa dalam keadaan homeostasis.

Osmoregulator

Hewan yang bersifat osmoregulator memiliki konsentrasi cairan internal tubuh lebih tinggi dari konsentrasi mediumnya ketika berada dalam perairan dengan salinitas rendah, sebaliknya konsentrasi carian tubuhnya lebih rendah dari konsentrasi mediumnya ketika berada dalam salinitas tinggi.

Oxyregulator

  • Oksiregulator yang meliputi hampir semua vertebrata senantiasa mempertahankan level konsumsi oksigen walaupun kandungan oksigen terlarut dalam mediumnya mengalami penurunan.
  • Jika kandungan oksigen terlarut di mediumnya menurun terus sampai batas minimumnya, hewan air dapat teraklimasi menjadi conformer. Setelah teraklimasi, maka konsumsi oksigennya menurun manakala kandungan oksigen terlarut di lingkungan eksternalnya rendah.

 

 

 

terimaa kasihh,,

gleek out !!

 

follow me on twitter @jojoehanezharth

mamalia


Karakteristik Mammalia

Anggota gerak depan pada mammalia dapat bermodifikasi untuk berlari, menggali lubang,berenang dan terbang. Pada jari-jarinya terdapat kuku, cakar, atau tracak. Pada kulit terdapat banyak kelenjar minyak dan kelenjar keringat. Mammalia yang betina mempunyai kalenjar mammae (air susu) yang tumbuh baik.

Membran niktitans mata mungkin vestigal. Secara proposional serebrum jauh lebih besar dibandingkan vertebrata lain. Serebellum juga besar, terdapat 12 pasang saraf kranial. Respirasi melalui paru-paru yang mengandung banyak bagian kecil-kecil. Tyerdapat 3 buah osikel audiotori yaitu malleus, nikus dan stapel. Akhir organ pendengar (koklea) berstruktur sangat kompleks dan sedikit banyak bergelung.

A. Pembagian Kelas Mammalia

1) Sub kelas prototheria

Mammalia bertelur, terdapat di australia. Ordo monotremata. Contoh: Ornithorhynchus anatinus, Platipus.

2) Sub kelas allotheria

Mammalia yang telah punah.

3) Sub lelas theria

a. Pantotheria (telah punah)

b. Metatheria (mammalia berkantung, Ordo Marsupia lia, Contoh: opossum (Didelpia Marsupiallis), kangguru (Dendrolagus sp).

c. Eutheria

Mammalia berplasenta.Pertumbuhan dan perkembangan fetus didalam uterus. Vagina hanya satu. Fetus terletak didalam plasenta yang melekat pada uterus.

B. Karakteristik Umum Mammalia

1. Karakteristik Eksternal

Manusia normal tingginya antara 130 cm dan 195 cm. Kulit manusia itu tipis, mudah rusak. Warna kulit tergantung jumlah pigmen merah (mengandung hemoglobin), pigmen hitam (melanin), pigmen kuning (karoten) dalam kapiler-kapiler kulit. Faktor dominan adalah melaninnya. Rambut kepala tumbuh terus, bagian tubuh lainnya tidak berambut.

Tubuh manusia terbagi atas kepala, leher dan badan dengan 2 pasang apendiks, yaitu tangan dan kaki. Rambut di kepala, ketiak dan pubik. Pada lelaki rambut tumbuh lebih luas.Muka tegak poros kepala tegak lurus terhadap poros tubuh. Poros tubuh vertikal. Terdapat lima jari dari setiap apendiks.

2. Rongga Tubuh

Selom terbagi menjadi rongga-rongga peritoneal, perikardium dan 2 buah pleural.

3. Morfologi dan Fisiologi Sistem Organ

a. Sistem Skeleton

  • Morfologi sistem skeleton berdasarkan klasifikasi lokasi tulang-tulang manusia.
  • Fisiologi sistem skeleton, fungsi utama skeleton itu adalah menyokong, melindungi, untuk menggerakan (menyediakan titik-titik origo dan insertio otot-otot).

b. Sistem Muskulator

  • Morfologi sistem muskulator. Otot terdiri dari serabut yang bergaris yang mulai melintasi persendian skeleton. Akhir dari serabut otot yang sedikit bergerak disebut origo, yang banyak bergerak disebut insertio.
  • Fisiologi sistem muskular. Kontaksi otot mencakup : tidak adanya perubahan volume total jaringan otot (otot menebal dan bersamaan waktunya otot memendek).

c. Sistem Pencernaan

  • Morfologi

Mulut tertutup oleh bibir. Ada 4 tipe gigi dan jumlahnya seluruhnya gigi ada tiga buah, yaitu 8 gigi seri, 4 gigi taring,  8 plemolar, 12 molar. Terdapat 3 pasang kelenjar ludah dan melepaskan ludah kedalam mulut, yaitu kelenjar ludah parolid, submaksllaris, dan sublingual. Usus halus terdiri dari 3 bagian : duodenum, jejenum, dan ileum. Usus besar (kolon) terdiri dari 3 bagian yaitu : bagian assendens, transversal, dan dessendens. Bagian terakhir itu bersatu dengan fleksus sigmoid dan rektum.

  • Fisiologi

Setelah di kunyah dan dicampur dengan ludah dalam mulut, makanan di telan oleh gerakan volunter (sukarela). Demikian pula, lintasan makanan melalui saluran pencernaan itu adalah juga karena gerakan volunter.

Defekasi, yaitu pelepasan bahan yang tidak tercerna dan tidak terabsorpsi juga merupakan aksi volunter.Digesti itu berlangsung karena bantuan enzim-enzim hidrolisis spesifik.

d. Sistem Ekskresi

  • Morfologi

Ada ginjal yang sebenarnya (metanefros), masing-masing dengan saluran (ureter) yang menyangkut urine ke kandung kemih (vesica urineria). Ekskresi juga melalui kelenjar keringat dalam kulit, dan melalui paru-paru.beberapa protein oleh hati dikeluarkan kedalam darah dan merupakan ekstret juga.

  • Fisiologi

Kapsul bowman itu mengelilinggi simpul kapiler.kapiler darah yang disebut glomelurus, yang berfungsi sebgaia sebuah jaringan. Kelenjar keringat penting dalam regulasi panas tubuh. Aksi perespirasi melalui efek evaporasi itu penting karena mengurangi temperatur permukaan tubuh.

e. Sistem Respirasi

  • Morfologi

Saluran-saluran udara dalam hidung di perluas permukaannya oleh tulang-tulang turbinal.Saluran ini terbuka pada atap faring di sebelah pallatum molle. Dari faring, saluran udara menuju ke laring melewati sebuah lubang yang tertutup oleh sebuah jelabir (flap) yang disebut epiglotis.

  • Fisiologi

Karena udara aveolar secara normal mengandung lebih banyak oksigen dari CO2, dibanding darah dalam kapiler-kapiler paru-paru, maka o2 cenderung berdifusi kedalam darah dan co2 cenderung berdifusi dari darah kedalam alveoli-alveoli.itulah yang di sebut respirasi eksternal.

f. Sistem Saraf

  • Morfologi

Hemisfer-hemisfer serebral (serebrum, berasal dari telensefalon) begitu besar, sehingga di ensefelon mesensefelon (otak tengah) tersembunyi atau terbungkus oleh hemisfer-hemisfer tersebut.Serebellum sebenarnya juga relatif besar.

Ada 12 pasang saraf kranial seperti pada reptil, burung dan lain-lain mammalia yang secara esensial distribusinya sama. Manusia mempunyai 31 pasang saraf spinal : 8 servikal, 12 torakal, 5 lumbar, 5 sakral, dan 1 koksigeal.

  • Fisiologi

Fungsi utama sistem saraf adalah konduksi impuls saraf dari suatu bagian tubuh kebagian lain. Sel-sel yang terlibat dalam fungsi tersebut adalah neuron-neuron yang berspesialisasi tinggi, dan secara sipikal terdiri dari  badan sel, sebuah dendrit dan sebuah akson.

g. Reproduksi dan perkembangan

  • Morfologi

Pada wanita terdapat 2 ovarium, terdapat dibagian bawah kavum abdominal, dekat akhir bukaan oviduk (saluran fallopius). Dua saluran bersatu menjadi uterus yang berhubungan dengan sinus urogenital oleh vagina.

Pada pria, testes terbungkus dalam skrotum, sebuah testes mempunyai banyak saluran (vasa eferensial) yang kemudian bersatu menjadi vasa deferensial yang mempunyai vesikulo seminalis. Sekret-sekret produk berbagai kelenjar membentuk cairan seminal, didalamnya terkandung spermatozoa yang telah terbentuk dalam testes.

  • Fisiologi

Ovum yang berkembang biak di kandung dalam sebuah folikel dalam ovarium. Ovarium itu tumbuh bersama pertumbuhan telur didalamnya.bila telah terbentuk telur yang di masak, folikel pecah, ovum terlepas.Proses itu disebut proses ovulasi.

Bila terjadi fertilisasi ovum, perkembangan telur terjadi dalam saluran fallopis dan sementara itu secara perlahan-lahan telur yang telah berkembang turun ke uterus dan tertanam (implantasi) dalam lapisan uterus.

reptilia


Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Zug, 1993).

Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru (Zug, 1993).

Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Jantung pada reptil memiliki 4 lobi, 2 atrium dan 2 ventrikel. Pada beberapa reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan berdarah dingin yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur suhu tubuhnya, reptil melakukan mekanisme basking yaitu berjemur di bawah sinarmatahari. Saluran ekskresi Kelas Reptilia berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang spesifik untuk ordo-ordo reptilia. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada Ordo Squamata yaitu Sub-ordo Lacertilia dan Sub-ordo Ophidia. Kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat pada Ordo Chelonia dan Ordo Crocodilia. (Zug, 1993).

Pada anggota lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting untuk identifikasi. Semua reptil memiliki gigi kecuali pada ordo testudinata. Pada saat jouvenile, reptil memiliki gigi telur untuk merobek cangkang telur untuk menetas, yang kemudian gigi telur tersebut akan tanggal dengan sendirinya saat mencapai dewasa. Beberapa jenis reptil memiliki alat pendengaran dan ada yang yang dilengkapi telinga luar atupun tidak. Pada beberapa jenis lainnya, alat pendengaran tidak berkembang. Mata pada reptil ada yang berkelopak dan ada yang tidak memiliki kelopak mata. Kelopak mata pada reptil ada yang dapat digerakkan dan ada yang tidak dapat digerakkan dan ada juga yang berubah menjadi lapisan transparan.

Habitat dari Kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan akuatik seperi penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu Ordo Crocodilia dan beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa Sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada kebanyakan Sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, bebepapa anggota Ordo Testudinata, sub terran pada sebagian kecil anggota Sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil Sub-ordo Ophidia dan Lacertilia.

Kelas reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya: Tuatara) Testudinata / Chelonia (contohnya: Penyu, Kura-kura, dan Bulus), Squamata (Contohnya: Serpentes, Lacertilia, dan Amphisbaena) dan Crocodilia (contohnya: Buaya, Aligator, Senyulong, dan Caiman).

mayoritas reptil adalah ovipar (bertelur) meski beberapa spesies Squamata bersifat vivipar (melahirkan). Reptil vivipar memberi makan janin mereka menggunakan sejenis plasenta yang mirip dengan mamalia.

Ukuran reptil bervariasi, dari yang berukuran hingga 1,6 cm (tokek kecil, Sphaerodactylus ariasae) hingga berukuran 6 m dan mencapai berat 1 ton (buaya air asin, Crocodylus porosus). Cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari reptil adalah herpetologi.

Ciri-ciri hewan melata adalah sebagai berikut:
– Kulit kering bersisik dari zat tanduk karena zat kertin
– Bernafas dengan paru-paru
– Berdarah dingin (porkoliokonal) yakni yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan
– Umumnya bersifat avivar (bertelur), contoh kadal, dan vivipar beranak, contohnya ular.
– Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua serambi dan dua bilik yang masih belum sempurna.

Pada beberapa reptilia, ventrikel itu hampir-hampir sempurna terbagi menjadi 2 bilik,   walaupun kebanyakan pembagian itu belum sempurna betul. Arteri-arteri pulmoner sudah terpisah dari arteri sistemik , karena fungsi arteri cardinal posterior dikerjakan seluruhnya oleh vena cava posterior. Ginjal bertipe  metanefros. System porta renal tereduksi. Fertilisasi internal. Reptilian itu ovipar atau ovovivipar. Yang ovipar meletakan telur-telurnya dengan kulit cangkang yang keras. Embrio reptilia terlindung di dalam amnion dan allantois seperti pada burung dan hewan menyusui. Yang ovovivipar menghasilkan telur dengan banyak kuning telur, dan telur itu tumbuh dan berkembang dalam oviduk ( saluran telur) hewan betina. Saluran telur itu, karenanya, dapat disebut “uterus”. Contoh: bengkarung dan “ratlle-snake”.

Baik yang telah punah (fosil) maupun yang masih hidup, ukuran reptilia itu bervariasi. Reptilia terbesar (fosil) adalah dari ordo Dinosaurus. Contoh: Brontosaurus (25 m), Diplodocus ( hamper 30 m) dengan berat kira-kira 25-35 ton, Stegosaurus (6 m). disbanding badannya, otaknya sangat kecil ( 0,25 kg). fosil lainnya dari ordo Pterydactyla ( bersayap). Contoh: Rahmphorhynchus sp, dan Pteronodon sp dengan jarak ujung-ujung sayap 8 m.

Reptilia yang hidup sekarang juga bervariasi besarnya. Anaconda dari Amerika Latin panjangnya 11 m, varanus komodoensis dari Indonesia panjangnya 3,5 m. Buaya  pemakan orang panjangnya 7 m. Ular Leptotyphlops sp, dari Siria hanya sebesar jarum songket dari logam. Kadal lepidoblepharis sp, dari Panama panjangnya hanya 5 cm.

A. ORDO ( BANGSA ) REPTILIA

Banyak ordo (bangsa-bangsa) dalam kelas reptilia, termasuk Dinosaurus dan Pterydactyla, telah punah. Satu ordo reptilia primitif yang sekarang yang masih hidup adalah Sphenodon punctatum yang terdapat di Selandia Baru. Sphenodon masih menunjukan tanda-tanda berupa : mata pineal ( konis sebagai modifikasi badan pineal) yang biasa terdapat pada vertebrata rendah. Oleh sebab itu  Sphenodon sp, cukup mendapat perhatian secara evolusi ( termasuk ordo Rhynchocephalia).

Reptilia yang sekarang ada termasuk dalam salah satu ordo di bawah ini.

  1. A. Ordo Chelonia

Reptilian dengan skeleton yang sebagian bermodifikasi menjadi karapaks (perisai dorsal) dan Plastron ( perisai ventral ). Rahang-rahang tidak bergigi, tetapi berzat tanduk. Hidup di laut, di air tawar, atau di darat. Tubuh lebar. Karapaks keras dan bersatu di sisi tubuh dengan plastron. Prisai tertutup dengan skutum polygonal. Tulang kuadrat tidak dapat di gerakkan. Rusuk telur di letakkan dalam lubang-lubang galian yang dibuat hewan betina . Ada 263 spesies. Contoh : kura-kura berlukis ( Chrysemys picta ), kura-kura air tawar ( chelydra serpentina), penyu (Caretta sp, Chelonia mydas).

Penyu ( chelonian mydas )

  1. a. Karakteristik Eksternal

Secara eksternal, dalam hubungannya dengan skeleton, penyu itu berspesialisasi tinggi, namun secara internal berpola sederhana seperti nenek-moyang mamalia. Tubuh terlindung di antara karapaks dan plastron. Plastron itu terbagi-bagi transversal sehingga memudahkan bergerak, sedang karapaks kurang memungkinkan pergerakan. Panjang tubuh ± 1 m, dengan berat ± 200 kg. kepala dengan leher, ekor dan kaki semuanya menonjol keluar diantara karapaksdan plastron. Dua lubang hidung dekat ujung anterior kepala. Mata lateral, dengan kelopak mata atas dan bawah, mempunyai membrane niktitas. Tidak ada telinga luar. membran impani tertutup dengan selapis kulit. pinggiran mulut terbentuk dari rahang bersat tanduk,tidak gigi.kaki dengan cakar. lubang kloaka ventral pada dasar ekor.

  1. a. Morfologi dan Fisiologi Sistem Organ

Sistem skeleton

Rusuk dan sebagian besar vertebrae bersatu dengan karapaks. Sabuk-sabuk pectoral dan pelvic berpola primitive, yaitu tersusun tiga tulang. Sabuk pectoral terdiri dari scapula ( bersatu dengan karapaks), prokorakoid, dan korakoid. Sabuk pelvic terdiri dari ilium (bersatu dengan karapaks), tulna pubik, dan tulang iskium (ventral). Tulang tengkorak merupakan sebuah kotak yang kompak dengan muskulatur rahang yang kuat.

Sistem pencernaan

Tidak ada gigi. Ludah lebar, tetapi tidak dapat ditonjolkan ke luar. Sistem pencernaan terdiri dari faring yang dapat dibesarkan, esofagus berdinding tebal, lambung, usus halus, usus besar, dan kloaka. Hati dengan empedu besar dan pankreas.

Sistem respirasi

Dari faring, melalui celah suara (glottis) terus menuju trakea (bercincin kartilago), dilanjutkan ke bronki yang kemudian bercabang-cabang dalam paru-paru. Paru-paru itu terbagi dalam kompartemen-kompartemen (lobus-lobus). Laring dari kartilago terdapat di ujung anterior trakea.

Sistem sirkulasi

Secara fundamental, system peredaran darah penyu tidak  banyak berbeda dengan system peredaran darah katak, kecuali arteri pulmonary dan pokok aorta terpisah sejak keluar dari venttrikel (bilik). Saluran pencernaan mendapat darah dari cabang-lengkung aorta kiri tetapi kurang mendapat darah dari aorta dorsal seperti pada katak.  System peredaran darah renal sangat tereduksi. Porta renal dihubungkan dengan system porta hepatic oleh sepasang vena abdominal ventral.

Sistem ekskresi

Penyu merupakan ginjal dengan tipe metanefros, dengan saluran kemih (ureter) yang menyalurkan kemih ke kloaka, tidak langsung ke kandung kemih. Kandung kemih berstruktur biiobat di sisi ventral dekat kloaka.

Sistem saraf

Dibanding dengan ikan dan katak, hemisfer dan serebellum penyu itu lebih besar. Di sini telah ditemukan 12 pasang saraf cranial, karena ada tambahan saraf spinal ( No. XI ) dan saraf hypoglossal ( No. XII ).

Sistem sensori

Mata, telinga, dan hidung berkembang baik sebagai system sensori. Terdapat kelenjar lakrimal ( air mata ), meatus auditori eksternal ( lubang telinga luar ), dan membrane timpani yang terletak di bawah kulit dan melekat padanya

  1. b. Reproduksi dan Perkembangan

Organ kopulasi primitif, berupa penis beralur yang terbentuk dari dindig kloaka. Telur dengan dinding  kloaka. Telur dengan dinding seperti kulit, diletakkan dalam lubang galian (oleh induknya)  embrio terbungkus dalam membrane disebut amnion, dan bernapas dengan allantois.

A. Ordo Squamata

Reptilia yang tubuhnya tertutup dengan sisik-sisik kecil yang fleksibel. Tidak ada rusuk abdominal. Terdiri dari sub-ordo :

Sub-ordo Lacertilia (Sauria)

Tubuh panjang, tetapi kurang dari 30 cm, kaki 4 buah yang kadang-kadang tereduksi atau hilang sam sekali. Mandibula bersatu di bagian anterior. Tulang kuadrat berkontrak dengan pterigoid, sehingga terbukanya mulut terbatas ( tidak seperti ular ). Kelopak mata biasanya dapat digerakkan. Sabuk pectoral tumbuh baik atau tinggal sebagai sisa (vastigum). Bentuk lidah bercabang. Mempunyai kandung kemih, contohnya: bengkarung ( kadal, Lacerta sp ), tokek ( hemidactylus turcicus, Sphaerodactylus sp.), bunglon (agama sp, Draco sp), komodo ( varanus komodoensis), kamelion ( Chameleon Chameleo, claret gombel)

Kadal  ( Lacerta sp.)

a. Karakteristik Eksternal

Tubuh memanjang, tertekan lateral. Kaki empat, kuat dapat digunakan untuk memanjat. Mandibula bersatu di bagian anterior. Tulang pterigoid berkontak dengan tulang kuadrat. Kelopak mata dapat digerakkan. Sabuk pectoral berkembang baik. Mulut lengkap. Mempunyai kandung kemih. Gendang telinga terlihat dari luar. Ekornya digunakan keseimbangan gerak ketika berlari. Kulit tertutup sisik yang tersusun seperti susunan genting, sisik-sisik ini lunak.

a. Morfologi dan Fisiologi Sistem Organ

System Skeleton

Vertebrae ekor tidak menulang secara sempurna, ekor mudah putus, teapi cacat mengalami regenerasi. Kolumna vertebrae terbagi menjadi servikal, toraks, lumbar, sacral, dan kaudal. Tulang-tulang sebagian terdiri atas kartilago. Kolumna vertebralis dengan otot-otot segmental yang Nampak jelas.

Sistem pencernaan

Lidah dapat dijulurkan keluar dengan mudah ( bebas ). Gigi-gigi melekat pada rahang. Dari mulut dilanjutkan ke faring, esophagus, dan lambung. Lambung dengan bagian fundus dan pylorus. Dari lambung kemudian ke intestinum, rektum, dan kloaka. Hati dan pancreas berpembuluh ke intestinum. Kloaka untuk mengeluarkan sisa pencernaan, ekskret, dan untuk reproduksi.

Sistem respirasi

Udara masuk melalui lubang hidung kehidung dalm ( dibelakang velum) kemudian keglottis (dalam faring), trakea, bronki (ada 2), dilanjutkan ke paru-paru ( dengan kapiler-kapilernya).

Sistem sirkulasi

Jantung terdiri dari sinus venosus, 2 aurikel, dan 2 ventrikel, yang terbagi sempurna. Darah dari sinus venosus ke aurikel kanan, ventrikel kanan, artei pulmonary ( bercabang dua ), vena paru-Paru, aurikel kiri, kemudian ke ventrikel kiri. Dari ventrikel kiri keluar lengkung aorta ke dorsal, arteri karotis kekepala dan kaki depan. Yang ke belakang member darah untuk ruang tubuh , kaki belakang dan ekor.

Darah vena berkumpul dalam vena cava anterior ( di kedua belah sisi kepala dan leher ), vena cava posterior, vena porta hepatis, yang kemudian menjadi vena hepatis, dan dalam vena epigastrikum yang semuanya di alirakan kembali ke sinus venosus tersebut.

Gambar struktur dalam tubuh Lacerta

Sistem ekskresi

Ada kandung kemih, tetapi kotoran/ekskret bersifat semisolid ( setengah keras), seperti pada burung, dan dikeluarkan langsung melalui kloaka bersama tinja.ekskret itu mengandung urat, bagian dari air kenicng, yaitu bahan berwarna putih, biasanya sebagai garam Na dan mengandung zat kapur.

Sistem saraf dan sensori

Otak terdiri dari 2 lobus olfaktorius yang panjang, hemisfer, 2 lobus cptikus, serebellum, dan medulla obiongata yang melanjut ke korda saraf. Dibawah hemisfer terdapat indundibulum dan hipofisis. Terdapat 12 pasang saraf cranial dan pasang-pasang saraf spinal pada tiap scmit tubuh. Lidah sebagai organ perasa dan hidung dengan organ olfaktori (pembau). Mata dengan kelenjar air mata. Telinga dengan saluran auditori eksternal ( di bawah kulit, dengan membrane timpani), dan tiga buah saluran semisirkular yang merupakan organ pendengar. Terdapt saluran Eustacius yang bermuara pada atap faring dibelakang hidung dalam.

a. Reproduksi dan Perkembangan

Fertilisasi internal. Kadal jantan mempunyai hemipenis ( seperti pada penyu ) di dekat kloaka betina. Pada waktu kopulasi organ itu di masukkan ke dalam kloaka kadal betina. Kebanyakan perkembangan telur terjadi di alam bebas, tetapi kadang-kadang. Jika keadaan tidak sesuai, kadal betina menahan telur yang telah dibuahi (ovipar atau ovovivipar ). Telur yang diletakkan di tanah brkulit keras. Embrio dikelilingi oleh amnion, korion, dan allantois. Menetasnya hewan mudah merupakan miniature hewan dewasa.

Sub-Ordo Ophidia (ular)

Tidak mempunyai kaki ( tidak mempunyai telapak kaki ). Lubang telinga, tulang dada (sternum), dan kandung kemih tidak ada. Mandibula dihubungkan di bagian anterior oleh sebuah ligamentum. Bola mat tidak dapat digerakkan , tertutup oleh sisi transparan. Tidak mempunyai kelopak mata. Lidah panjang, bercabang dua dapat dijulurkan keluar. Paru-paru tereduksi. Gigi panjang dan geling, terdapat pada rahang atas langit-langit mulut, dan juga pada tualng pterigoid. Terdapat 2.500 spesies ular.

Ular (termasuk Sub_ordo Ophidia)

Ular adalah reptilian yang kehilangan apendiks, sternum, kelopak, mata, telinga luar, dan kandung kemih. Tengkorak lemah, karena bagian-bagian tulangnya dapat bergerak satu di atas lainnya. Ular berbisa mempunyai sepasang “taring” pada maksila untuk menyalurkan bisa. Pada ular kobra, taring itu dapat dilipat ke belakang bila tidak di gunakan. Lidah pasang, sempit, bercabang dua. Walaupun mulut tertutup, lidah dapat dijulurkan ke luar melalui lekuk rahang bawah. Di dalam rongga hidung terdapat organ Jacobson yang dapat terangsang secara kemis untuk membau. Lidah membantumembawah rangsangan kemis itu.

System pencernaan berupa saluran lurus dari mulut ke anus. Semua organ internal dalam tubuh ular itu terbentuk memanjang sesuai dengan kondisi. Hanya ada satu paru-paru (kiri). Pada yang jantan terdapat alat kopulasi hemipenis.

Jumlah vertebrae tergantung pada panjang ular ( ada yang sampai 200 atau 400). Otot-otot tubuh menghubungkan vertebrae dengan; vertebrae, vertebrae dengan rusuk, rusuk dengan rusuk, rusuk dengan kulit, dan kulit dengan kulit. Otot-otot itu ada yang panjangnya melebihi jarak yang ada, sehingga memungkinkan ular dapat bergerak melingkar-lingkar. Ular juga dapat bergerak lurus ke depan, dengan jalan meluncur dengan bantuan sisik-sisik ventral di tanah, atau melekukkan tubuh dengan membuat sudut tajam ( contoh : ular gemercak, ratlle snake).

Ular tidak mengunyah atau merobek mangsanya, tetapi menelannya secara utuh. Mangsanya mungkin lebih besar dari penampang tubuhnya. Hal itu mungkin karena:

a. Pertautan ujung dua mandibula oleh ligamentum yang elastic.

b. Tulang kuadrat bebas dari tulang kepala dan mandibula.

c. Tulang langit-langit bergrak bebas.karena hal-hal tersebut, mulut dapat terbuka lebar. Penelanan mangsa di bantu oleh gigi-gigi yang mengarah kebelakang.

d. Tidak ada tulang dada ( sternum) dan rusuk-rusuk bebas sehingga dada dapat di atasi.

e. Kulit lunak dan elastic

f. Esophagus dan lambung dapat melebar. Ketika menelan mangsa yang besar, pernafasannya tidak terganggu, karena glottis terletak jauh di depa di antara rahang di belakang lidah.

  • Ø Beberapa golongan ular yang perlu diketahui:

1. Phyton : tidak berbisa. Contohnya: ular piton ( Phyton reticulates 9- 10 m, P. molurus 8 m, terdapat di seluruh dunia, kecuali di selandia Baru. Dapat menelan babi hutan, kambing.

2. Aglypha : tidak berbisa. Conoh :Natrix sp. ( ular air ) dan ular anak gembala ( Thamnaophis sp) makanannya ikan dan katak. Ualr raja ( Lampropeltisboylii) mangsanya berupa reptilia, termasuk ular

3. Opisthoglypha: agak berbisa. Contoh: ular pohon ( Boiga sp), terbesar di seluruh dunia kecuali di Selandia Baru, Tantilla sp. Di Amerika.

4. Proteroglypha : sangat berbisa contoh ular laut ( Hydrophis sp, Hydrus platyurus) makanannay ikan. Naja tripudians (kobra).

5. Solenoglypha: berbisa, vivipar. Contoh: Vipera sp.( di Eropa dan Asia). Ular Gemercak ( rattle snake, Crotalus viridis, c. ceratus, Sistrurus sp)

A. Ordo crodilia

Reptilia besar, berkulit tebal, dengan rusuk-rusuk abdominal. Bilik ( ventrikel) jantung terbagi sempurna menjadi ventrikel kiri dan ventrikel kanan. Hidup di laut dan di air tawar. Tubuh panjang, kepala besar dan panjang. Rahang sangat kuat dengan gigi-gigi konis, tumpul. Kaki berjumlah 4, pendek. Jari-jari dengan kuku. Ekor panjang, pipih. Kulit tebal dengan skutum berzat tanduk. Lubang telinga kecil, tertutup kulit. Lidah tidak dapat dijulurkan. Tidak mempunyai kandung kemih. Ovipar. Telur diletakkan dalam daun-daun yang membusuk. Ada 23 jenis buaya, Contoh: Crocodylus sp.., Alligator sp).

BUAYA (Crocodylus)

a. Karakteristik Eksternal

Tubuh menjadi kepala, leher, badan, ekor. Kaki dengan jari yang bercakar kuat. Mulut panjang. Dua lubang hidung pada moncongnya. Mata besar lateral, mempunyai kelopak mata atas dan bawah. Membrane niktitans tembus cahaya. Lubang telinga tetutup oleh lipatan kulit. Anus merupakan celah longitudinal dibelakang pangkal kaki belakang. Kulit dengan lempeng-lempeng berzat tanduk, tersusun membujur tubuh. Buaya mempunyai 3 pasang kelenjar kasturi ( musk glands ) yang terletak di sisi kepala, dalam mulut, dan dalam kloaka.

b. Morfologi dan Fisiologi Sistem Organ

Sistem skeleton

Tengkorak dengan moncong kuat. Rahang bawah bersendi pada tualng kuadrat dengan tulang kepala. Cranium dengan tulang langit-langit yang keras, dan di atas langit-langit terdapat saluran udara. Koluman vertebralis dengan 5 tipe vertebrae: 9 servikal, 10 toraks, 5 lumbar, 2 sakral, da kira-kira 39 kaydal. Pada vertebrae servikal ada rusuk-rusuk pendek, bebas. Vertebrae torakal dan sternum dihubungkan oleh rusuk dada. Antara sternum dan tulang pubik terdapat 7 pasang rusuk abdominal berbentuk huruf V.

Sistem otot

Dibanding dengan katak, system otot buaya itu lebih rumit, karena gerakannya lebih kompleks. Otot-otot kepala, leher, dan kaki tumbuh baik, walaupun kurang jika dibandingkan pada mamalia. Segmentasi otot jelas pada kolumna vertebralis dan rusuk.

Sistem Pencernaan

Mulut lebar dengan gigi kuat unuk menerkam dan memutar mangsanya. Lidah pipih dapat dijulurkan. Di belakang pangkal lidah terdapat lipatan transversal yang jika tertekan akan menutup lubang faring. Ini berarti, di dalam air buaya dapat membuka mulutnya tetapi tidak memungkinkan air masuk ke dalam paru-paru. Dari faring terus ke esophagus, lambung (dengan bagian lundus dan pylorus), terus ke usus halus, rectum yang besar, kemudian ke kloaka dan anus. Mempunyai hati. Dan pankreas dengan saluran ke usus halus. Kloaka di gunakan untuk membuang sisa pencernaan, eskret, dan reproduksi.

Sistem sirkulasi

Jantung terdiri dari sinus venosus, 2 serambi dan 2 bilik. Bilik terpisah secara sempurna menjadi 2 bagian. Darah dari sinus venosus ke serambi kanan, bilik kanan, arteri paru-paru (2), vena paru-paru (2), terus ke serambi kiri, dan bilik kiri. Dari bilik kiri keluar sepasang lengkung aorta. Satu ke dorsal kemudian menjadi arteri karotis dan member darah ke kepala, leher dan kaki depan. Yang lainnya terus ke aorta dorsal dan memberi  darah untuk rongga tubuh dan kaki belakang serta ekor darah vena dari kepala, leher dan kaki depan. Yang lainnya terus ke aorta dorsal dan memberi darah untuk rongga tubuh dan kaki belekang serta ekor darah vena dari kepala, leher dan kaki depan terkumpul dalam vena cava anterior. Darah dari gijal dan alat reproduksi terkumpul dalam vena cava posterior. Darah dari saluran pencernaan terkumpul dalam vena hepatis terus ke hati. Vena epigastrica menerima darah vena dari kaki belakang, ekor dan rongga tubuh. Semua darah terkumpul dalam sinus venosus.

Sistem respirasi

Udara masuk melalui lubang hidung menuju ke hidung dalam ( di belakang velum ), melalui glottis ( dalam faring) tempat terdapat pita suara, menuju ke trakea, kemudian bronki yang bercabang dua masing-masing ke paru-paru.

Sistem ekskresi

Ginjal dua buah, pipih. Ada ureter dan bermuara di samping kloaka.

Sistem saraf dan sensori

Otak dengan dua lobus olfaktorius yang panjang, hemisfer serebral, 2 lobus optikus, serebellum, medulla oblongata yang melanjut ke korda saraf. Di bawah hemisfer serebral terdapat traktus optikus dan saraf optiku, infundibulu, dan hipofisis. Terdapat 12 pasang saraf cranial. Pasangan-pasangan saraf spinal menuju ke somit-somit tubuh.

Pada lidah terdapat kucu-kucup perasa, dan terdapat organ pembau pada rongga hidung. Mata dengan kelenjar air mata. Telinganya seperti telinga vertebrata rendah. Saluran auditori eksternal tertutup, kulit dengan membrane timpani. Telinga dalam dengan 3 saluran Eustachius dan bermuara dalam faring di belakng hidung dalam.

c. Reproduksi dan perkembangan

Yang jantan mempunyai penis, yang menyalurkan sperma dari testes melalui vas deferns. Yang betina mempunyai 2 ovarium dengan oviduk. Telur yang telah di buahi tertutup dengan albmin dan membrane kulit sebelum di letakkan oleh buaya betina. Seekor betina bertelur sebanyak 30-60 butir telur dan di eramkan dalam daun-daun membusuk selama kira-kira 60 hari. Ketika menetes, panjangnya kira-kira 30 cm. buaya dewasa jantan beratnya kira-kira 125 kg, yang betina 60 kg.

  • Calendar

    • September 2016
      M T W T F S S
      « Apr    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      2627282930  
  • Search