laporan praktikum perkembangan hewan


SIKLUS KELAMIN

A. TUJUAN PENELITIAN

PENELITIAN INI DILAKUKAN UNTUK MELIHAT DAN MENGETAHUI DAUR-DAUR ESTRUS PADA HEWAN (TIKUS PUTIH)

B. PELAKSANAAN KEGIATAN

HARI/TANGGAL            : jumat 23 oktober 2010

TEMPAT PELAKSANAAN      :    LABORATORIUM BIOLOGI FMIPA Universitas negeri manado

C. DASAR TEORI

Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu sekitar 25-40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi terjadi secara spontan.durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri membutuhkan waktu. Tahapan pada siklus estrus dapat dilihat pada vulva. Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus, metestrus, diestrus, dan proestrus. Periode-periode tersebut terjadi dalam satu siklus dan serangkaian, kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin (Nongae, 2008).

 

1. FASE PROESTRUS

Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati (Nongae, 2008). Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam. Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori membangun muatan vagina yang tebal.

 

2. FASE ESTRUS

Fase estrus merupakan periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Ovulasi berhubungan dengan fase estrus, yaitu setelah selesai fase estrus (Nongae, 2008). Pada fase ini estrogen bertindak terhadap sistem saraf pusat. Selama fase ini sapi menjadi sangat kurang istirahat yang kemungkinan dapat kehilangan dalam memperoduksi susu selama fase ini berlangsung. Pasokan darah ke dalam sistem reproduksi meningkat dan sekresi kelenjar dirangsang dengan membangun viscid mucus yang dapat diamati pada vulva. Kira-kira setelah 14-18 jam, fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina tidak mengalami ovulasi hingga setelah fase estrus (Shearer, 2008).

 

3. FASE METESTRUS

Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus bleeding (Nongae, 2008).

 

4. FASE DIESTRUS

Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada sapi hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk kehamilan (Nongae, 2008). Fase ini merupakan fase yang terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menhasilkan sejumlah progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus estrus yang baru (Shearer, 2008).
Ciri- ciri lain dari siklus estrus pada mencit adalah pada fase diestrus, vagina terbuka kecil dan jaringan berwarna ungu kebiruan dan sangat lembut. Pada fase proestrus, jaringan vagina berwarna pink kemerahan dan lembut. Pada fase estrus, vagina mirip dengan pada saat fase proestrus, namun jaringannya berwarna pink lebih terang dan agak kasar. Pada fase metestrus 1, jaringan vagina kering dan pucat. Pada metestrus II, vagina mirip metestrus 1 namun biobir vagina edematous (Hill, 2006).

A. ALAT DAN BAHAN

1.  Seekor Mus munculus

Kingdom          : Animalia
Phylum            : Chordata
Class                : Mammalia
Order              : Rodentia
Family             : Muridae

Subfamily        : Murinae
Genus              : Mus

Species              : M. musculus

2. Cutton buds

3. Larutan NaCl fisiologis

4. Pewarna Giemsa 10%

5. Alcohol 70%

6. Gelas objek

7. Pipet pastur

8. Mikroskop

A. LANGKAH KERJA

PRAKTIKUM INI DILAKUKAN DENGAN CARA : PENGULASAN

1. Ambil kapas pengulas (cotton swab) bersih dan basahi dengan larutan NaCl fisiologis.

2. Kemudian di ulaskan ke dalam mukosa vagina, harus di lakukan hati-hati agar tidak terjadi pendarahan.

3. Secepatnya ulaskan di atas gelas objek bersih dalam beberapa kali putaran.

4. Setelah mengering di fiksasi dengan methanol I% selama satu menit.

5. Setelah mengering di warnai dengan giemsa 10% selama 15 menit.

6. Sisa-sisa pewarna di cuci dengan air mengalir (kran) perlahan-lahan sampai bersih.

7. Setelah kering priksa di bawah mikroskop.

B. HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap mukosa vagina Mus Muculus maka didapatkan hasil bahwa Mus Muculus yang diteliti dittemukan berada pada fase proestrus dalam siklus birahi

 

terima kasih,,

semoga ini bermanfaat bagi kemajuan ilmu pendidikan di INdonesia

 

gleek out !!!

 

follow me on twitter @jojoehanezharth

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s